Dipublikasikan 11 Juli 2026
Industri teknologi seringkali digambarkan sebagai ladang emas dengan gaji tinggi dan peluang tak terbatas. Namun di balik citra glamor tersebut, banyak developer menghadapi realitas yang jauh lebih kelam:PHK massal, persaingan ketat, dan pencarian kerja yang memakan waktu berbulan-bulan. Felipe Vogel, seorang developer early-career, membagikan kisah nyatanya tentang bagaimana ia bertahan selama enam bulan tanpa pekerjaan setelah di-PHK. Cerita ini, yang dipublikasikan di blog pribadinya, memberikan gambaran jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi di pasar kerja tech saat ini.
Vogel bukan seorang fresh graduate yang langsung terjun ke tech. Ia adalah mantan guru sekolah yang beralih karir ke software development setelah merasa tidak puas dengan kehidupan profesionalnya. Setelah belajar coding di malam hari dan akhir pekan selama satu setengah tahun, ia berhasil mendapatkan pekerjaan junior developer di Februari 2022. Karirnya tampak menanjak: promosi ke mid-level, gaji yang terus naik, dan prospek yang cerah. Hingga November 2023, perusahaannya melakukan pemutusan hubungan kerja sebesar 44 persen, dan Vogel termasuk di dalamnya.
Banyak yang mengira bahwa pengalaman setahun sebagai developer sudah cukup untuk memudahkan pencarian kerja. Vogel membuktikan sebaliknya. Selama tiga bulan pertama pencariannya, ia mengirimkan puluhan lamaran dan mendapatkan nol respons. Bukan ditolak, melainkan sama sekali tidak dihiraukan. Sunyi. Pengalaman ini menunjukkan betapa kerasnya persaingan di pasar kerja saat ini, di mana setiap posisi bisa menerima ratusan bahkan ribuan aplikasi.
Salah satu momen terendahnya adalah ketika ia ditolak di tahap akhir interview untuk posisi mid-level karena perusahaan memilih kandidat dengan pengalaman 16 tahun. Ironisnya, perusahaan tersebut juga sedang membuka posisi senior. Ini menggambarkan betapa absurdnya kadang-kadang proses hiring di industri ini, di mana pengalaman berlebihan justru dianggap lebih aman bahkan untuk posisi yang seharusnya diisi oleh talenta berkembang.
Selain itu, Vogel juga menghadapi tantangan take-home assignments yang memakan waktu berlebihan. Satu kali, ia menghabiskan 20 jam untuk mengerjakan tugas yang seharusnya memakan waktu dua hingga tiga jam. Belum lagi live coding exercises yang muncul secara tiba-tiba bahkan untuk posisi back-end, dengan materi yang tidak relevan seperti React. Proses hiring yang tidak efisien ini bukan hanya membuang waktu kandidat, tetapi juga mencerminkan ketidakmampuan banyak perusahaan untuk menilai talenta secara objektif.
Titik balik bagi Vogel adalah ketika ia mulai serius melakukan job networking. Ia mencatat bahwa dari 18 aplikasi yang ia dapatkan melalui networking, 8 berhasil masuk ke tahap recruiter screening dan 5 melanjutkan ke interview lebih lanjut. Dua di antaranya berakhir dengan tawaran pekerjaan. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan puluhan cold applications yang tidak menghasilkan apa pun.
Vogel membagi networkingnya ke dalam tiga kategori. Pertama, existing connections: ia memanfaatkan kontak yang sudah dimiliki, baik first-degree maupun second-degree. Dari 10 upaya, 6 berhasil mendapatkan recruiter screening. Kedua, LinkedIn messaging: ia mencoba membentuk koneksi baru dengan mengirim pesan ke orang asing melalui InMail. Dari 7 upaya, hanya satu yang berhasil, tetapi dua lainnya memberinya referral. Ketiga, third-party recruiter: satu upaya melalui Mirror Placement berhasil membawanya ke tahap interview.
Yang menarik dari pengalamannya adalah bahwa referral bonus yang ditawarkan perusahaan kepada karyawan sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pencari kerja. Banyak karyawan bersedia mereferensikan kandidat asing karena mereka punya insentif finansial. Jadi meskipun terasa canggung, mengirim pesan kepada orang yang belum pernah bertemu bisa jadi strategi yang efektif dan win-win.
Pada bulan kelima, Vogel mulai merasa putus asa. Ia akhirnya menerima tawaran pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih rendah dari posisi sebelumnya, di perusahaan yang memberikan banyak red flags: review Glassdoor yang buruk, hiring manager yang mengatakan promosi dan kenaikan gaji dihentikan untuk waktu yang tidak ditentukan. Meskipun demikian, ia mengambil pekerjaan itu untuk mencegah tabungannya habis total.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa prinsip something is better than nothing kadang-kadang berlaku di dunia nyata, terutama ketika kondisi finansial mulai menekan. Namun, Vogel tidak berhenti di situ. Ia terus mencari pekerjaan yang lebih baik secara diam-diam dan akhirnya menemukan posisi yang lebih cocok. Kesabaran dan ketekunan adalah kunci: jangan pernah menyerah meskipun harus menerati jalan yang tidak ideal untuk sementara waktu.
Bagi developer di Indonesia, kisah Vogel menawarkan beberapa insight praktis. Pertama, jangan hanya mengandalkan job portals. Bangun network sejak dini, baik melalui komunitas lokal, konferensi, maupun platform seperti LinkedIn. Hubungan personal seringkali lebih berharga daripada CV yang sempurna. Di ekosistem tech Indonesia yang relatif kecil, network yang kuat bisa menjadi differentiator utama.
Kedua, persiapkan diri untuk proses hiring yang tidak selalu adil atau efisien. Latih live coding secara rutin, bangun portfolio yang bisa langsung dilihat, dan jangan terlalu emosional jika ditolak. Banyak penolakan terjadi bukan karena Anda tidak kompeten, tetapi karena pasar yang oversaturated. Fokus pada apa yang bisa Anda kontrol: skill, portfolio, dan network.
Ketiga, pertimbangkan untuk tidak hanya mencari posisi remote. Meskipun remote work menawarkan fleksibilitas, persaingannya jauh lebih besar karena Anda bersaing dengan kandidat global. Posisi lokal atau hybrid mungkin memiliki barrier to entry yang lebih rendah dan memberikan kesempatan untuk membangun hubungan langsung dengan rekan kerja dan atasan.
Terakhir, jaga kesehatan mental. Enam bulan pencarian kerja bisa menjadi periode yang sangat melelahkan secara emosional. Temukan komunitas support, lakukan aktivitas di luar coding, dan ingat bahwa PHK atau penolakan bukanlah refleksi dari nilai Anda sebagai individu. Industri tech memang keras, tetapi dengan strategi yang tepat dan ketahanan mental, Anda bisa bertahan dan akhirnya menemukan posisi yang tepat.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu