Otomasi untuk Apa? Ketika Developer Lupa Bahwa Tujuannya Adalah Manusia
MZ
Mahard Z

Dipublikasikan 10 Juli 2026

Otomasi untuk Apa? Ketika Developer Lupa Bahwa Tujuannya Adalah Manusia

Ada momen aneh yang sering terjadi di tengah malam. Seorang developer menemukan dirinya sedang menulis script Python berjumlah tiga ratus baris hanya untuk mengotomasi proses yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam lima menit secara manual. Ia tahu ini tidak efisien. Ia tahu waktu yang dihabiskan untuk membuat otomasi itu jauh lebih lama daripada waktu yang akan dihemat. Tetapi sesuatu yang lebih dalam mendorongnya untuk terus mengetik: sebuah kebutuhan yang bukan sekadar tentang produktivitas.

Fenomena ini bukan baru. Di komunitas software engineering, kita punya istilah sendiri untuk kebiasaan tersebut: yak shaving. Istilah ini menggambarkan aktivitas yang secara teknis berkontribusi pada tujuan akhir, tetapi dalam praktiknya justru menghabiskan energi pada hal-hal yang tidak esensial. Yang menarik, yak shaving tidak selalu terjadi karena kebodohan atau kurangnya disiplin. Sering kali, ia muncul dari tempat yang jauh lebih intim: keinginan manusia untuk menciptakan makna melalui pekerjaannya.

Obsesi Kita terhadap Efisiensi

Industri teknologi menjual narasi bahwa efisiensi adalah kunci kebahagiaan. Setiap tahun muncul alat baru yang menjanjikan untuk menghemat waktu, mengurangi gesekan, dan membebaskan kita dari pekerjaan manual. Dari Terraform yang mengotomasi infrastruktur, hingga GitHub Copilot yang menulis kode atas nama kita, paradigma otomasi telah menjadi dogma yang hampir tidak terbantahkan. Siapa yang berani menentang efisiensi?

Tetapi antropolog David Graeber, dalam bukunya Bullshit Jobs, mengajukan perspektif yang mengganggukan: masyarakat modern telah menciptakan begitu banyak pekerjaan yang tidak memiliki makna substantif, bahkan ketika teknologi sudah cukup maju untuk menggantikan sebagian besar tugas tersebut. Bukan karena teknologinya tidak ada, melainkan karena sistem sosial dan ekonomi kita terlalu bergantung pada pekerjaan sebagai sumber identitas. Manusia butuh merasa dibutuhkan, meskipun pekerjaan itu sendiri secara objektif tidak diperlukan.

Di kalangan developer, gejala ini muncul dalam bentuk yang lebih halus. Kita tidak sekadar mengotomasi karena perlu. Kita mengotomasi karena identitas kita terikat pada kemampuan untuk mengotomasi. Menjadi "developer yang efisien" adalah label yang kita kejar, bahkan ketika efisiensi itu sendiri menjadi tujuan yang kosong.

Ketika Proses Lebih Berharga dari Hasil

Fred Brooks dalam The Mythical Man-Month pernah menulis bahwa kesenangan dari pemrograman terletak pada pembuatan sesuatu yang berguna, pada desain sesuatu yang fungsional, dan pada interaksi dengan komputer yang tidak mengenal prasangka. Brooks menulis buku itu pada tahun 1975, jauh sebelum istilah devops atau AI agent lahir, tetapi insight-nya tetap tajam: ada kegembiraan inheren dalam proses membangun, dan kegembiraan itu seringkali tidak berbanding lurus dengan utilitas akhir produknya.

Ini adalah paradoks yang sulit dijelaskan kepada stakeholder non-teknis. Mengapa seorang engineer menghabiskan akhir pekan untuk memigrasi setup Docker-nya ke Nix, padahal Docker bekerja dengan baik? Mengapa kita begitu bangga ketika berhasil mengurangi pipeline CI dari tiga menit menjadi dua menit, meskipun penghematan itu tidak pernah benar-benar mempengaruhi bottom line bisnis?

Jawabannya mungkin terletak pada fakta bahwa kita bukan mesin. Manusia adalah makhluk yang menciptakan makna melalui narasi. Proses memperbaiki, mengoptimasi, dan mengotomasi adalah narasi yang memberi kita rasa kemajuan. Tanpa narasi itu, pekerjaan menjadi sekadar transaksi waktu dengan uang. Dan transaksi seperti itu cepat atau lambat akan menggiling semangat kita hingga habis.

Otomasi sebagai Pengejaran Makna

Diskusi di Hacker News seringkali mencerminkan ketegangan ini. Di satu sisi, komunitas itu penuh dengan diskusi teknis tentang cara mengotomasi segala sesuatu: dari deployment hingga pengiriman email harian. Di sisi lain, muncul post-post reflektif yang menanyakan hal fundamental: apakah semua ini benar-benar membuat kita lebih bahagia? Atau apakah kita hanya sibuk membangun mesin yang akhirnya membangun mesin lain, sementara jarak antara kita dan makna semakin menjauh?

Sebuah diskusi populer pernah menyoroti bagaimana developer senior seringkali justru lebih bahagia ketika mereka sengaja memperlambat diri, menghabiskan waktu untuk memahami codebase secara mendalam daripada buru-buru menerapkan solusi otomatis. Insight tersebut mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan: kecepatan bukanlah satu-satunya metrik yang penting. Kadang, pemahaman adalah tujuan itu sendiri.

Era AI saat ini mempertajam pertanyaan ini. Ketika OpenAI atau Anthropic merilis model baru yang mampu menulis kode lebih cepat dari kita, reaksi pertama komunitas biasanya campuran antusiasme dan kecemasan. Antusiasme karena produktivitas akan melonjak. Kecemasan karena peran kita sebagai "penulis kode" mungkin akan tergerus. Tetapi mungkin, justru di saat itulah kita dituntut untuk bertanya lebih dalam: jika kode bisa ditulis oleh mesin, apa yang tersisa untuk manusia?

Pertanyaan yang Harus Kita Ajukan

Sebelum menulis baris kode otomasi berikutnya, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengevaluasi. Apakah otomasi ini benar-benar membebaskan waktu saya untuk hal yang lebih bermakna? Ataukah ia hanya menciptakan ruang kosong yang akan segera diisi dengan otomasi lain, dalam siklus tak berujung? Apakah saya mengotomasi karena ada masalah nyata yang perlu dipecahkan, atau karena saya butuh merasa cukup pintar untuk memecahkannya?

Developer hebat bukanlah mereka yang mengotomasi segalanya. Developer hebat adalah mereka yang tahu kapan harus membiarkan sesuatu tetap manual, kapan harus membiarkan diri mereka berinteraksi dengan kompleksitas secara langsung, dan kapan harus menerima bahwa tidak setiap tugas perlu dioptimasi hingga ke titik terkecil. Efisiensi adalah alat, bukan agama. Dan seperti setiap alat, ia memiliki batas-batas etis dan eksistensial yang harus kita pahami.

Software engineering, pada akhirnya, adalah profesi yang dibangun di atas abstraksi. Kita menulis kode yang mengabstraksi logika, yang kemudian mengabstraksi hardware, yang kemudian mengabstraksi realitas fisik. Tetapi ada satu lapisan yang tidak boleh kita abstraksi: lapisan makna. Karena ketika makna hilang, tidak peduli seberapa efisien pipeline kita berjalan, kita akan tetap merasa kosong di depan layar.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang bisa kamu otomasi. Pertanyaannya adalah: setelah semuanya terotomasi, apa yang tersisa dari dirimu yang masih ingin kamu bangun?