Dipublikasikan 21 Agustus 2026
Dalam dua dekade terakhir, kita belum pernah melihat begitu banyak engineering leader kapabel memilih untuk keluar atau mengambil istirahat panjang dari karier mereka. CTO, VP of Engineering, dan Head of Engineering meninggalkan posisi bergengsi mereka, bahkan tanpa rencana kerja berikutnya. Fenomena ini menjadi topik hangat yang diulas mendalam oleh The Pragmatic Engineer dalam artikel terbarunya.
Gergely Orosz, penulis newsletter tersebut, berbicara dengan hampir 20 engineering leader yang sedang dalam career break atau serius mempertimbangkannya. Hasilnya adalah gambaran komprehensif tentang apa yang salah di industri tech saat ini dan mengapa posisi puncak yang dulu didambakan kini justru ditinggalkan.
Berdasarkan wawancara mendalam, Orosz mengidentifikasi sepuluh alasan paling umum mengapa engineering leader memutuskan untuk pergi:
Pekerjaan menjadi jauh lebih buruk karena ekspektasi yang tidak realistis
Startup tidak berkembang dan ekuitas menjadi tidak berharga
Keterampilan non-AI dianggap tidak relevan lagi
Predecessor sudah melihat tanda-tanda kehancuran sebelumnya
Jam kerja panjang, meski jarang menjadi faktor utama
Tim yang lebih kecil berarti kebutuhan akan leader berkurang
Fractional CTO lebih diminati dibanding posisi full-time
Startup AI membayar IC lebih tinggi daripada startup non-AI membayar eksekutif
Resign untuk membangun bisnis sendiri
Burnout akibat tekanan berkepanjangan
Salah satu faktor paling menonjol adalah ekspektasi yang tidak realistis seputar AI. Banyak founder dan CEO mengharapkan CTO secara ajaib mentransformasi perusahaan menjadi AI-native dalam waktu singkat. CTO diharapkan memotong biaya engineering 20-50%, termasuk pengurangan karyawan yang menghancurkan moral tim. Frasa do more with less kini berarti shipping lebih banyak dengan lebih sedikit orang, tanpa backfill untuk posisi yang kosong.
Lebih parah lagi, munculnya fenomena yang disebut AI psychosis pada founder. Seorang CTO yang baru resign menjelaskan kesulitannya mengelola founder yang dengan gembira mengirim pull request 60.000 baris hasil AI tanpa menyadari tech debt masif yang diciptakannya. Founder ini tidak melihat masalah dengan PR tersebut, dan menganggap CTO yang mengingatkan sebagai Debbie Downer. Founder mode yang didorong oleh AI ini juga menimbulkan masalah akuntabilitas. Siapa yang bertanggung jawab saat kode yang dikirim founder rusak di production? Dalam kultur you build it, you own it, menjadi membingungkan ketika founder ikut hands-on tanpa mengambil tanggung jawab penuh. Kualitas software juga bisa turun drastis jika fitur setengah matang dari founder diterima, mengirimkan sinyal ke seluruh tim bahwa kualitas tidak penting.
Charity Majors, CTO Honeycomb, menyampaikan peringatan keras: Anda harus mendapatkan AI di resume Anda. Jika tidak, ini adalah risiko karier yang besar. Bekerja di tempat yang tidak memberikan keterampilan AI berarti Anda tertinggal. Beberapa engineering leader bahkan harus turun ke peran individual contributor hanya untuk mendapatkan pengalaman hands-on dengan AI.
Tren menuju tim engineering yang lebih kecil juga mengurangi kebutuhan akan leadership layer yang tebal. Fullstack engineer kini menjadi mainstream, dan dengan bantuan AI coding agent, satu engineer bisa menangani frontend dan backend yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang. Di Anthropic, biasanya hanya satu atau maksimal dua fullstack engineer yang mengerjakan satu proyek, karena setiap engineer sudah menjalankan beberapa agent AI.
Frontend-only dan native mobile teams juga semakin mengecil atau menghilang. Bluesky misalnya, hanya menggunakan satu engineer untuk membangun aplikasi web, iOS, dan Android menggunakan React Native dan Expo. Cross-platform development yang didukung AI mengurangi drastis kebutuhan akan spesialisasi terpisah.
Tech companies telah meratakan struktur organisasi mereka selama tiga tahun terakhir. Meta memulai tren pengurangan posisi manajer pada 2023, dan banyak perusahaan lain mengikuti dengan meningkatkan jumlah report per engineering manager sambil mengurangi jumlah layer organisasi.
Bagi level Director ke atas, ekuitas adalah komponen kompensasi yang sangat penting. Namun, banyak startup yang mengalami stagnasi pertumbuhan membuat ekuitas tersebut menjadi tidak berharga. Seorang CTO dengan grant ekuitas 2% bisa saja mendapatkan nol dolar jika perusahaan tidak bisa exit di atas 200 juta dolar karena preference stack investor.
Sebagai contoh, jika perusahaan mengumpulkan 10 juta dolar seed di valuasi 50 juta, lalu 100 juta Series A di valuasi 500 juta, total 110 juta dolar ditanam. Investor biasanya memiliki 1x preference, artinya mereka mendapatkan 110 juta dolar pertama saat exit. Namun jika Series A menegosiasikan 2x preference, mereka mengambil 210 juta dolar pertama. Startup harus dijual di atas 210 juta agar pemegang saham common seperti CTO mendapatkan apa pun. Ketika startup berhenti tumbuh, prognosisnya bisa suram. Bahkan jika startup menjadi profitable, tanpa pertumbuhan 20-50% per tahun, sulit untuk memenangkan putaran pendanaan berikutnya. Value perusahaan bisa menyusut ke 3-5x annual revenue, membuat exit yang menguntungkan menjadi mustahil bagi karyawan dengan opsi saham.
Bagi engineer dan engineering manager di Indonesia, tren global ini mengandung pelajaran penting. Pertama, keterampilan AI bukan lagi optional melainkan mandatory. Kedua, memahami bisnis dan valuasi perusahaan menjadi semakin krusial, terutama jika Anda mempertimbangkan join startup dengan kompensasi berbasis ekuitas. Ketiga, fleksibilitas untuk beradaptasi antara peran IC dan leadership bisa menjadi aset berharga.
Matt Boyle, seorang VP Engineering yang pernah bekerja di Gitpod, memberikan saran praktis: bekerjalah di perusahaan yang benar-benar ingin mendorong perubahan. Wawancaralah calon employer Anda untuk memastikan mereka benar-benar memanfaatkan perubahan yang dibawa AI, bukan sekadar mengikutinya tanpa arah.
Sumber: The Pragmatic Engineer
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu