MZ
Mahard Z

Dipublikasikan 20 Mei 2026

AI Anxiety Meluas: Pekerja China Ketakutan Diganti OpenClaw

Adopsi AI yang masif di China ternyata membawa efek samping yang tidak terduga: kecemasan meluas di kalangan pekerja. Menurut laporan Rest of World, ribuan orang rela mengantre berjam-jam di luar kantor pusat Tencent di Shenzhen hanya untuk menginstal OpenClaw, sebuah agen AI open source yang sedang viral.

Fenomena ini, yang dijuluki raising a lobster karena logo merah OpenClaw, mencerminkan ketakutan mendalam bahwa tools yang seharusnya meningkatkan produktivitas justru bisa menggantikan posisi mereka. Bagi banyak pekerja, menguasai OpenClaw bukan lagi soal rasa ingin tahu, melainkan soal kelangsungan hidup di tempat kerja.

AI Anxiety di Media Sosial China

Di platform RedNote, tagar AIAnxiety telah menarik sekitar 2.6 juta views. Pengguna sering berbagi kekhawatiran pribadi: Mencoba mengikuti AI lebih melelahkan dari pekerjaan itu sendiri, tulis seorang pengguna. Lainnya mengeluh, Bos saya menyuruh saya menulis kode AI untuk menggantikan beberapa staf. Kapan giliran saya?

Seorang software developer berusia 35 tahun di Shanghai mengaku perusahaannya telah mem-PHK 30 persen karyawan pada 2025, dengan target utama adalah karyawan yang tidak bisa beradaptasi dengan AI. Perasaan ini diibaratkan seperti serial Squid Game, di mana eliminasi bisa terjadi kapan saja.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Peneliti ekonomi China, Li Chen, menyoroti bahwa ketika sejumlah besar pekerja kelas menengah dan kaum muda khawatir AI mengganggu karier mereka, mereka cenderung mengurangi pengeluaran dan menambah tabungan sebagai persiapan jika di-PHK. Hal ini bisa menghambat upaya pemerintah China untuk merangsang ekonomi.

Survei oleh Cheung Kong Graduate School of Business pada Mei 2025 menemukan bahwa 85.5 persen dari 11.814 responden China merasa khawatir tentang dampak AI terhadap pekerjaan mereka. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kecemasan di negara Barat. Bahkan tingkat pengangguran untuk pemuda usia 16-24 di China berkisar 15-19 persen pada 2025, jauh di atas rata-rata global.

Bagi developer dan founder di Indonesia, fenomena ini adalah peringatan bahwa transformasi AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal manusia. Membangun produk AI perlu mempertimbangkan upskilling tim dan komunikasi yang transparan tentang bagaimana AI akan digunakan, bukan menggantikan, tenaga manusia.