Di mana kamu terakhir kali memenangkan sebuah perdebatan teknis dan benar-benar merasa puas? Bukan puas karena solusinya bagus. Bukan puas karena produknya jadi lebih baik. Tapi puas karena kamu tahu, dengan pasti, bahwa lawan bicaramu salah. Dan semua orang di ruangan itu tahu dia salah.
Kalau kamu developer, kemungkinan besar momen itu terjadi di Slack, di pull request, atau di thread Twitter yang panjangnya bisa jadi makalah. Topiknya bisa apa saja: React versus Vue, tabs versus spaces, monolith versus microservices, TypeScript versus JavaScript murni. Argumennya tajam, logikanya rapat, referensinya kuat. Kamu menang.
Tapi setelah itu apa yang terjadi? Apakah codebase jadi lebih bersih? Apakah tim jadi lebih kompak? Atau justru sebaliknya: ada yang diam-diam ga suka, meeting jadi awkward, dan keputusan akhirnya tetap diambil oleh orang yang paling keras suaranya, bukan yang paling benar?
Sebagai engineer, kita dilatih untuk mencari kebenaran. Bug itu ada atau tidak ada. Kompleksitas algoritma itu O(n) atau O(n2). Race condition itu terjadi atau tidak. Dunia teknis adalah dunia biner, dan kita cenderung membawa kebiasaan itu ke ruang diskusi.
Masalahnya: orang bukan compiler.
Wang Cong, seorang engineer perangkat lunak, pernah menulis refleksi pribadi yang menyebar luas di kalangan developer. Dia menyadari bahwa selama bertahun-tahun dia menikmati memenangkan argumen teknis. Code review, design meeting, mailing list. Kalau ada yang salah, dia ingin orang itu tahu persis mengapa. Dia mengumpulkan counter-argument seperti mengumpulkan patch. Dia percaya: kalau logika cukup jelas, orang lain tidak punya pilihan selain setuju. Kebenaran akan menang.
Hasilnya? Hampir tidak pernah berhasil seperti yang dibayangkan.
Kadang dia menang secara poin dan kalah secara orang. Lebih sering lagi, dia tidak menang sama sekali. Dia melihat lawan bicaranya semakin yakin dengan hal yang baru saja dia buktikan salah, sementara ruangan secara perlahan bergeser ke sisi lawan. Dia berjalan pergi secara teknis benar dan sepenuhnya sendirian.
Sekitar 2.500 tahun lalu, Lao Tzu menulis sesuatu yang anehnya sangat relevan untuk pull request yang belum di-merge karena ego:
Being and non-being create each other. Hard and easy complete each other. Long and short define each other. High and low depend on each other.
Segala sesuatu hanya ada dalam relasi terhadap kebalikannya. Tidak ada benar tanpa salah yang membuatnya benar. Dan saat kamu berdiri di tanah tinggi, kamu secara otomatis menciptakan tanah rendah tempat orang lain harus berdiri. Memenangkan argumen berarti memproduksi seorang pecundang. Menjadi benar secara terlihat berarti memproduksi seseorang yang salah secara terlihat.
Jadi kebenaran teknis bukanlah kebaikan murni yang mengambang di ruang hampa. Itu adalah separuh dari pasangan, dan itu menyeret lawannya bersama-sama. Begitu kita berhenti memperlakukan kebenaran sebagai hal absolut, kita berhenti butuh untuk menang.
Kalau kamu aktif di komunitas tech Indonesia, fenomena ini familiar. Di grup Telegram, di X, di kolom komentar LinkedIn, perdebatan teknis bisa memanas dengan cepat. React versus Vue bukan lagi soal trade-off, tapi soal identitas. Pilih React berarti modern. Pilih Vue kadang dianggap pragmatis, kadang dianggap ketinggalan. Padahal keduanya hanyalah alat.
Menurut Wang Cong, kebanyakan argumen bukan tentang ide. Itu tentang ego.
Ketika kamu berdebat dengan seseorang, kamu pikir kamu sedang mendiskusikan ide. Padahal seringkali kamu sedang menantang rasa diri mereka. Banyak orang adalah ego-driven. Opini mereka bukan posisi yang mereka pegang: opini itu adalah mereka sendiri. Buktikan ide itu salah dan kamu tidak memperbaiki fakta, kamu menyerang orang. Jadi mereka mempertahankannya seperti mempertahankan diri: bukan dengan akal, tapi dengan perlawanan. Semakin kuat argumenmu, semakin keras mereka bertahan.
Kamu tidak bisa memenangkan argumen seperti itu, karena itu bukan argumen. Itu adalah perang soal ego siapa yang tetap utuh. Bahkan ketika kamu menang, kamu kalah, karena sekarang kamu punya musuh yang lebih yakin dari sebelumnya.
Kita suka percaya bahwa manusia adalah makhluk rasional yang kadang merasakan emosi. Kenyataannya justru sebaliknya. Kita adalah binatang emosional yang kadang berpikir.
Kebanyakan orang tidak menyimpulkan melalui penalaran lalu merasa sesuai. Mereka merasa dulu, lalu berpikir mundur untuk membenarkan perasaan itu. Mereka mengikuti kerumunan, salah sangka keyakinan sebagai kebenaran, dan mengadopsi apa pun yang orang-orang di sekitar mereka percayai. Berpikir independen itu jarang, jauh lebih jarang dari yang kita akui.
Sekali kamu menerima ini, berargumen dengan logika mulai terlihat absurd. Kamu membawa bukti ke perasaan. Buktinya kedap air. Perasaannya tidak bisa membaca.
Jadi apa yang bisa dilakukan?
Pertama, bedakan dua jenis percakapan. Satu, diskusi pro-kontra dengan orang cerdas. Di sini, perbedaan pendapat adalah pencarian bersama untuk jawaban yang lebih baik, dan kalian berdua pergi dengan lebih tajam. Dua, argumen benar-salah dengan orang yang didorong ego. Di sini, tidak ada jawaban yang dicari, hanya diri yang harus dipertahankan. Mengetahui percakapan mana yang sedang kamu jalani adalah separuh pertempuran. Separuh lainnya adalah disiplin untuk berjalan pergi dari yang kedua.
Kedua, berhenti menawarkan koreksi kecuali diminta. Wang Cong menemukan pengecualian yang bersih untuk semua aturan di atas: bantu orang ketika mereka secara eksplisit meminta bantuan. Ketika seseorang bertanya, sebab dan akibat berbalik. Kamu tidak lagi memaksakan penilaianmu pada seseorang yang tidak pernah menginginkannya. Permintaan mereka adalah sebab; bantuanmu adalah akibat. Sekarang ada celah yang nyata, karena mereka memutuskan mereka siap mendengarnya. Ego diturunkan. Pertahanan turun. Nasihat itu mendarat.
Ketiga, manfaatkan perbedaan sebagai profit, bukan sebagai medan perang. Kalau kamu dan rekanmu tidak setuju soal arsitektur, jangan habiskan tiga jam di Zoom untuk membuktikan siapa yang lebih benar. Gunakan perbedaan itu untuk membuat prototype dua pendekatan. Ukur. Biarkan data yang bicara. Dalam banyak kasus, kedua pendekatan bisa jadi sama-sama bekerja, dan perbedaan preferensi itu sebenarnya tidak signifikan secara statistik.
Berhenti memenangkan argumen bukan berarti berhenti peduli dengan kebenaran. Justru sebaliknya. Ini berarti kamu mulai peduli dengan hasil yang lebih besar daripada ego pribadi. Kamu mulai melihat engineering sebagai olahraga tim, bukan kompetisi individu.
Jadi pertanyaannya bukan lagi: Apakah aku benar?
Tapi: Setelah percakapan ini selesai, apakah tim kita lebih kuat, produk kita lebih baik, dan hubungan kita lebih sehat?
Kalau jawabannya tidak, mungkin saatnya untuk diam, mendengarkan, dan membiarkan orang lain menemukan kompor panasnya sendiri. Karena seperti yang dikatakan Wang Cong: kata-kata memantul; rasa sakit menempel. Dan orang-orang jarang belajar dari nasihat. Mereka belajar dari konsekuensi.
Sumber inspirasi: Why I Stopped Arguing With People oleh Wang Cong.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu