Dipublikasikan 12 Agustus 2026
Sebuah opini yang sedang viral di kalangan developer internasional menarik perhatian kita: AI tidak hanya mengubah cara kita menulis kode, tapi juga sedang menghapus kelas menengah dalam software engineering. Tulisan dari Florian Herrengt menggambarkan skenario yang mungkin sudah mulai terasa familiar bagi banyak developer senior.
Artikel ini merangkum argumen utama Herrengt, mengapa AI mempercepat kegagalan proyek dengan engineering culture yang lemah, dan apa artinya bagi karir developer Indonesia di era agentik.
Herrengt membandingkan dua skenario: tahun 2020 ketika codebase berantakan karena junior dev saling merge PR tanpa review ketat, dan tahun 2026 ketika developer bangun pada Senin pagi menemukan 7 PR menunggu review dengan perubahan lebih besar dari yang pernah terjadi selama cuti beberapa minggu.
Perbedaannya sekarang: AI membuat proyek dengan engineering culture yang lemah gagal jauh lebih cepat. Dulu ada waktu untuk berdiskusi sebelum implementasi. Sekarang, cukup prompt agent beberapa jam lalu buka PR.
Yang paling menakutkan, menurut Herrengt, adalah bahwa hasilnya terlihat berfungsi di surface level. Team terus melanjutkan, iterasi demi iterasi, hingga proyek mencapai titik di mana tidak ada yang mengerti cara kerja sistemnya.
Analoginya seperti seseorang membeli mobil mewah dengan kartu kredit: kamu melihat mobilnya bagus, tapi tidak melihat utangnya. Di software engineering, utang teknis ini akumulatif dan seringkali tidak terdeteksi sampai terlambat.
Herrengt menggambarkan dialog yang mungkin terdengar nyata:
Jadi data ini dari mana? Hmm... sebenarnya saya tidak tahu. Mari kita tanya Claude.
Keduanya duduk berdampingan menatap dinding teks yang tak berujung. Tidak ada yang tahu apakah jawabannya benar, tapi Claude terlihat sangat percaya diri. Project telah menjadi begitu rumit, dengan begitu banyak lapisan dan service, sehingga tidak ada di tim yang bisa memahami apa yang sedang terjadi.
Perbaikan memerlukan effort kolosal yang mustahil untuk dijustifikasi ke manajemen. Dan bahkan jika diperbaiki, dalam beberapa bulan akan kembali ke keadaan yang sama.
Herrengt mengusulkan teori bahwa AI sedang menghapus middle class software engineer. Di satu sisi, ada elite engineer yang memahami sistem secara mendalam dan bisa mengarahkan AI dengan efektif. Di sisi lain, ada junior yang mengandalkan AI sepenuhnya tanpa pemahaman fundamental.
Yang terjepit di tengah adalah engineer senior yang dulu bertugas menjaga code quality dan arsitektur. Mereka kini kewalahan menghadapi volume perubahan yang dihasilkan AI, sementara kualitas codebase merosot tanpa mereka bisa mencegahnya.
Bagi developer Indonesia, tren ini punya implikasi konkret:
Fundamental tetap penting: AI bisa menulis kode, tapi tidak bisa menggantikan pemahaman mendalam tentang arsitektur, trade-off, dan system design.
Engineering culture adalah differensiator: Perusahaan dengan kultur engineering yang kuat akan menggunakan AI sebagai amplifier. Yang lemah akan menggunakannya sebagai shortcut menuju kehancuran codebase.
Review AI output adalah skill baru: Developer masa depan bukan yang paling cepat generate kode, tapi yang paling cepat mengenali kode berkualitas rendah yang dihasilkan AI.
Komunikasi manusia masih berharga: Diskusi arsitektur, mentorship, dan code review yang bermakna tidak bisa digantikan oleh prompt ke agent.
AI memang mempercepat software development, tapi juga mempercepat kegagalan bagi tim yang tidak memiliki fondasi engineering yang kuat. Bagi developer Indonesia, peluangnya adalah menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas sambil tetap mempertahankan standar kualitas dan pemahaman mendalam terhadap sistem yang dibangun.
Middle class yang bertahan bukan yang paling cepat, tapi yang paling paham kapan harus memperlambat dan memastikan fondasi tetap kokoh sebelum menambah lantai.
Sumber: Florian Herrengt Blog.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu