Hampir satu setengah tahun setelah rilis ChatGPT, pertanyaan model LLM mana yang harus digunakan punya jawaban yang jelas: ada GPT-4 dan ada yang lainnya. Sekarang, di akhir 2025, ada puluhan LLM untuk dipilih, dan menavigasi ruang ini hampir mustahil. Menurut analisis mendalam dari iSchemist, seorang veteran pengguna Cursor sejak Maret 2024, vibe coding justru sedang membunuh alat yang dulu sangat ia cintai.
Vibe coding adalah kemampuan menciptakan perangkat lunak, situs web, atau aplikasi yang sepenuhnya berfungsi hanya dengan menulis prompt dalam bahasa Inggris. Konsep ini seperti fiksi ilmiah, yang mungkin menjelaskan mengapa begitu banyak orang tertarik sejak akhir 2023. Dan akan naif untuk menganggap LLM tidak bisa melakukan itu. Faktanya, penulis dari iSchemist sendiri pernah vibe coding versi awal aplikasi todo dan pomodoro pribadinya.
Masalahnya adalah vibe coding tanpa kendali sangat tidak efisien dalam hal token dan sangat mahal. Bayangkan skenario berikut. Anda ingin membuat landing page untuk proyek baru. Anda menulis prompt P1 sepanjang 100 token, dan LLM merespons dengan kode O1 sepanjang 2.000 token yang dimasukkan ke file index.tsx. Halaman tersebut berisi lima bagian, salah satunya berisi grid fitur dengan ikon.
Jika Anda tidak menyukai pilihan ikon atau redaksi deskripsi di bagian tersebut, cara yang masuk akal adalah membuka file, menavigasi ke bagian yang diinginkan, dan mengubahnya secara manual. Namun, jika Anda adalah maximalist vibe coding, Anda akan terus meminta LLM untuk membuat perubahan sederhana tersebut. Setiap kali, LLM tidak hanya melihat 100 token P2, melainkan seluruh rantai pesan P1, O1, P2 dan akan menghasilkan respons baru O3 berupa penggantian seluruh file atau patch. Biaya inference terus membesar hanya untuk mengganti satu ikon.
Cursor memang populer karena agentic workflow-nya yang canggih. Namun, menurut pengamat industri, pendekatan agentic Cursor memicu spiral biaya yang tidak terkendali. Setiap iterasi kecil memaksa model untuk memproses ulang seluruh konteks, dan dengan harga API LLM yang terus naik, tagihan bulanan pengguna bisa melonjak drastis.
Alternatif yang ditawarkan adalah menggunakan OpenCode, yang menampilkan semua perubahan kode dalam format git diff. Ini memberikan transparansi penuh kepada developer atas apa yang diubah oleh agen. Model yang direkomendasikan adalah Claude Sonnet 4.5 untuk sebagian besar tugas, dan Claude Opus 4.5 untuk tugas kompleks, dengan biaya mulai dari 20 dolar per bulan melalui Claude Pro.
Bagi developer di Indonesia yang sedang mempertimbangkan alat AI untuk coding, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, pertahankan kendali. Gunakan LLM sebagai kopilot, bukan pilot otomatis. Kedua, pahami biaya token. Jangan sampai tagihan API di akhir bulan melebihi budget proyek. Ketiga, pilih tooling yang transparan. Git diff adalah teman terbaik; jika alat AI Anda tidak menunjukkan perubahan secara eksplisit, Anda sedang membangun technical debt tanpa sadar.
Di sisi lain, vibe coding tetap memiliki tempat di prototyping awal. Ketika Anda perlu memvalidasi ide dalam hitungan jam, membiarkan agen menggerakkan seluruh proses bisa sangat produktif. Tantangannya adalah transisi dari prototype ke production-grade code tanpa membuang semuanya dan menulis ulang dari nol.
Vibe coding bukanlah solusi ajaib. Ini adalah spektrum di antara kontrol penuh dan delegasi total. Menemukan titik optimal di spektrum tersebut adalah kunci produktivitas berkelanjutan. Seperti yang diuraikan iSchemist, masa depan coding adalah kolaborasi manusia-mesin yang terstruktur, bukan penyerahan diri total kepada algoritma. Cursor mungkin tidak benar-benar mati, tapi paradigma vibe coding yang tidak terkendali pasti akan beradaptasi.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu