Pada tahun 2020, Fara Ashiru, pengusaha Nigeria, membangun platform fintech-nya, Okra, di atas Amazon Web Services. Ia membayar AWS dalam dolar meskipun pendapatan Okra dalam naira, karena penyedia cloud Amerika pada saat itu tidak menerima pembayaran dalam mata uang lokal.
Pembayaran ke AWS secara bertahap meroket seiring depresiasi naira sekitar 70 persen terhadap dolar antara 2020 dan 2024. Menurut laporan eksklusif dari Rest of World, Ashiru menyebut tagihannya mencengangkan. Kombinasi dengan tantangan ekonomi Nigeria, inflasi yang meningkat, dan volatilitas forex, membuat model ini tidak berkelanjutan.
Ashiru mengambil tindakan. Okra membangun infrastruktur cloud dengan server di pusat data Nigeria dan Afrika Selatan pada tahun 2024. Pada akhir tahun tersebut, operasi cloud dipisahkan menjadi perusahaan baru bernama Nebula, yang memungkinkan siapa saja di Nigeria menjalankan situs web, aplikasi, atau alur kerja di cloud-nya dan membayar dalam naira.
Nebula adalah pendatang terbaru di pasar layanan cloud Nigeria, di mana beberapa perusahaan lokal seperti Nobus, Galaxy, Suburban, dan Layer3 memposisikan diri sebagai alternatif yang terjangkau dan terlokalisasi bagi AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud. Selain opsi pembayaran dalam naira, perusahaan-perusahaan ini memungkinkan warga Nigeria menyimpan data di dalam negeri, sebuah keunggulan yang kebanyakan rival Barat tidak miliki. Server lokal memberikan manfaat latensi rendah dan lokalitas data pada saat perdebatan tentang siapa yang memiliki akses ke data suatu negara semakin memanas.
Pemimpin global tampaknya telah memperhatikan ancaman tersebut. Pada Januari 2025, AWS mulai menerima pembayaran dalam naira. AWS menyatakan bahwa mata uang lokal penting dalam melokalkan pengalaman pembayaran bagi pelanggan. Menurut Iyinoluwa Aboyeji, managing partner di firma venture building pan-Afrika Accelerate Africa, AWS menyadari bahwa jika tidak menerima naira, mereka membuang-buang waktu. Kami secara teratur menyarankan perusahaan portofolio kami untuk mencari solusi lokal jika memungkinkan dan mengelola biaya utama seperti cloud dalam naira.
AWS, Microsoft, dan Google tidak menanggapi permintaan komentar untuk cerita ini. Nigeria adalah rumah bagi lebih dari 19.000 startup teknologi, termasuk 1.400 startup yang didanai ventura yang telah mengumpulkan hampir 28 miliar dolar secara kolektif. Negara ini memiliki setidaknya tiga unicorn internet: raksasa e-commerce Flutterwave dan perusahaan fintech OPay serta Interswitch.
Kisah Nigeria menawarkan pelajaran berharga bagi developer dan founder di Indonesia. Pertama, dependensi pada infrastruktur asing membawa risiko mata uang. Startup Indonesia yang berlangganan AWS atau GCP dalam dolar menghadapi tekanan serupa ketika rupiah melemah. Kedua, pasar cloud lokal memiliki potensi besar. Indonesia memiliki jutaan UMKM dan startup yang membutuhkan layanan cloud terjangkau dengan dukungan bahasa dan mata uang lokal.
Di Indonesia, beberapa penyedia cloud lokal seperti Biznet Gio, Indonet, dan Telkom Cloud sudah mulai berkembang. Namun, adopsi masih tertinggal dibandingkan AWS dan GCP. Kisah Nigeria menunjukkan bahwa dengan kombinasi harga kompetitif, dukungan lokal, dan kebijakan data sovereignty, pasar cloud lokal bisa tumbuh dengan pesat.
Meski menjanjikan, cloud lokal menghadapi tantangan signifikan. Skala ekonomi masih jauh di bawah hyperscaler global. Infrastruktur pusat data lokal seringkali belum memiliki sertifikasi kepatuhan internasional seperti SOC 2 atau ISO 27001. Selain itu, ekosistem tooling dan dokumentasi untuk platform cloud lokal masih kurang matang, sehingga developer sering kesulitan mencari solusi untuk masalah teknis.
Perang cloud di Nigeria adalah mikrokosmos dari dinamika global. Hyperscaler tidak bisa lagi mengabaikan pasar berkembang sebagai pelanggan pasif. Mereka harus beradaptasi dengan kondisi lokal atau kehilangan pangsa pasar kepada pesaing lokal yang lebih gesit. Bagi developer Indonesia, ini adalah pengingat bahwa diversifikasi penyedia cloud dan evaluasi berkala terhadap biaya infrastruktur adalah bagian penting dari strategi teknologi startup yang sehat. Seperti yang dilaporkan Rest of World, perubahan paradigmik baru saja dimulai dan akan mengubah peta persaingan cloud global dalam beberapa tahun ke depan.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu