Menurut laporan eksklusif dari TechCrunch, Google akhirnya membuka tirai kacamata AI generasi berikutnya di konferensi developer Google I/O pekan ini setelah sekian lama dirumorka dan dibicarakan. Tim TechCrunch mendapat kesempatan hands-on singkat namun intens dengan prototype Android XR glasses yang menawarkan pengalaman audio dan visual terpadu dalam satu perangkat wearable yang ringan dan stylish.
Kacamata ini pertama kali diumumkan pada tahun 2025 dengan komitmen investasi besar sebesar 150 juta dolar AS untuk pengembangan bersama mitra fashion dan teknologi ternama seperti Warby Parker, Gentle Monster, dan Samsung. Perangkat menampilkan lensa transparan dengan tampilan heads-up display (HUD) yang menyajikan informasi berguna secara real-time seperti prakiraan cuaca, arah berjalan kaki, detail pesanan Uber, terjemahan bahasa asing real-time, dan widget custom yang bahkan bisa didesain sendiri oleh pengguna menggunakan AI generatif.
Prototype yang diuji di venue I/O masih dalam tahap awal pengembangan, secara sengaja dirancang agar Google bisa fokus bereksperimen dengan teknologi display, sensor, dan integrasi AI tanpa harus khawatir tentang detail kosmetik atau desain fashion. Artinya, bentuk, dimensi, dan bobot prototype sangat berbeda dari versi komersial yang akan dijual kepada konsumen nanti. Namun, inti teknologi dan pengalaman pengguna sudah cukup matang untuk dievaluasi secara kritis.
Untuk mengaktifkan asisten virtual Gemini, pengguna menekan tombol di sisi kanan frame selama dua detik. Suara chime startup yang lembut memberi tahu bahwa Gemini sudah aktif dan siap mendengarkan perintah. Pada versi demo yang diuji, memulai Gemini juga secara otomatis menyalakan kamera untuk visual input, meskipun versi final yang akan dipasarkan nanti akan memungkinkan pengguna mengkonfigurasi apakah kamera ikut aktif atau tidak untuk alasan privasi.
Pada pengujian pertama, kacamata digunakan untuk memutar musik dengan meminta Gemini memutar artis favorit pengguna. Sayangnya, venue Google I/O terlalu bising dan ramai untuk mengevaluasi kualitas suara secara akurat dan fair. Volume dinaikkan ke maksimum tetapi musik masih sulit didengar dengan jelas. Kesan awal dari pengujian terbatas ini adalah kacamata ini bukan pengganti earbud berkualitas tinggi seperti AirPods Pro atau Sony WF-1000XM5, tetapi cukup untuk mendengarkan musik santai saat berjalan, hiking, atau beraktivitas ringan di rumah.
Keunggulan utama dibanding earbud tradisional adalah pengguna tetap bisa mendengar percakapan orang di sekitar dengan lebih mudah dan natural dibanding mode transparency pada earbud seperti Apple AirPods. Untuk mematikan musik, cukup ketuk sekali di sisi frame, seolah sedang mengetuk pelipis.
Pada pengujian kedua, tombol foto digunakan untuk memotret seseorang di dekat penguji. Saat display mati, foto langsung ditransfer ke ponsel dan jam tangan pintar pengguna melalui sinkronisasi seamless. Pengguna juga bisa meminta Gemini mengambil foto dan langsung melakukan manipulasi AI, seperti mengubah orang dalam foto menjadi karakter anime Jepang. Proses ini melibatkan pengiriman foto ke ponsel, lalu ke server Gemini dan Nano Banana untuk diproses, dan kembali dalam versi editannya yang unik.
Ketika display diaktifkan, layar homescreen sederhana namun informatif muncul di lapangan pandang pengguna. Versi demo memiliki widget pramuat yang menampilkan informasi cuaca terkini dan countdown timer ke acara I/O. Pengguna juga bisa membuat quick launcher kustom ke aplikasi spesifik yang sering digunakan seperti Google Maps, Google Translate, atau aplikasi pesan.
Prototype yang diuji memiliki satu display monokular di atas mata kanan, meskipun platform Android XR secara teknis mendukung konfigurasi single display, dual display, maupun audio-only tanpa visual. Gambar terlihat sedikit kabur dan tidak sejelas smartphone, yang mungkin disebabkan oleh lensa kontak preskripsi penguji yang kompleks. Ketika satu mata ditutup, gambar menjadi lebih fokus, tetapi pengalaman ini langsung menimbulkan ketegangan mata dan sedikit sakit kepala di atas mata kanan setelah pemakaian beberapa menit.
Salah satu demo terbaik dan paling mengesankan adalah pengalaman terjemahan bahasa real-time. Demonstrator berbicara dalam bahasa Spanyol dengan kecepatan native, dan kacamata secara otomatis mendeteksi bahasa tersebut serta menampilkan teks terjemahan dalam bahasa Inggris langsung di display lensa, sementara Gemini secara bersamaan berbicara bahasa Inggris di telinga pengguna melalui speaker built-in. Pengalaman ini sangat futuristik dan bisa menjadi alasan utama traveler internasional membeli kacamata ini saat tersedia nanti.
Demo navigasi juga sangat menarik dan praktis. Pengguna bisa meminta Gemini menavigasi ke suatu tujuan, bahkan dengan perintah sesamar kedai kopi terdekat yang buka sekarang. Gemini akan mengaktifkan Google Maps di ponsel terhubung, dan setelah loading singkat, kacamata menampilkan petunjuk arah belok demi belok secara real-time. Saat melihat ke depan, informasi belokan berikutnya ditampilkan secara minimalis. Jika perlu orientasi arah, pengguna bisa melihat ke bawah untuk melihat titik biru pada peta mini, lalu melihat ke atas lagi untuk terus berjalan tanpa peta yang menghalangi pandangan jalan.
Meski menjanjikan dan penuh potensi, kacamata ini masih memiliki beberapa keterbatasan teknis yang signifikan. Wi-Fi di venue I/O sedang sangat padat, dan round-trip untuk edit foto menggunakan AI membutuhkan waktu 45 detik, yang terasa lama untuk pengalaman real-time. Eye strain juga menjadi concern serius, terutama bagi pengguna dengan preskripsi mata yang kompleks atau yang belum terbiasa dengan monocular display. Google berencana meluncurkan versi audio-only lebih dulu pada musim gugur tahun ini, sementara versi dengan display visual masih dalam pengembangan lebih lanjut dan belum memiliki tanggal rilis pasti.
Kacamata AI Google hampir sampai di garis finis dalam hal visi produk, tetapi masih butuh beberapa putaran pengembangan, pengujian, dan penyempurnaan lagi sebelum benar-benar siap untuk pasar massal. Bagi developer Indonesia yang mengikuti perkembangan AR/VR dan wearable AI, Android XR adalah platform yang patut diawasi karena bisa menjadi fondasi untuk aplikasi spatial computing berikutnya.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu