Figure Robot Sorting Paket Selama 200 Jam Tanpa Henti
Taufiq M
Taufiq M

Dipublikasikan 27 Mei 2026

Figure Robot Sorting Paket Selama 200 Jam Tanpa Henti

Figure, startup humanoid robot yang didukung oleh OpenAI, baru-baru ini mencatat prestasi endurance yang mengesankan: armada robot mereka berhasil melakukan sorting paket secara terus-menerus selama 200 jam berturut-turut tanpa intervensi manusia sama sekali. Menurut laporan dari Sherwood News, yang awalnya dimulai sebagai tantangan 10 jam manusia versus robot, berubah menjadi marathon shift yang berlangsung selama sembilan hari penuh dengan pekerjaan continuous dan autonomous.

CEO Figure, Brett Adcock, menyebutkan di platform X bahwa tantangan dimulai sebagai head-to-head competition sederhana antara Figure 03 robot dan seorang human intern bernama Aime. Tugasnya adalah sorting paket kecil, yakni menemukan barcode dan meletakkannya face-down di conveyor belt. Setelah 10 jam, intern manusia memenangkan putaran pertama dengan 12.924 paket dibandingkan 12.735 paket oleh robot. Namun Adcock menambahkan prediksi yang menggugah: ini adalah kali terakhir manusia akan menang dalam kompetisi semacam ini di masa depan.

Yang membuat prestasi ini semakin menarik secara teknis adalah bahwa bukan satu robot yang berdiri di tempat selama 200 jam penuh. Melainkan, serangkaian robot bekerja dalam konser dan berkomunikasi satu sama lain untuk mengambil giliran swapping out ketika robot aktif kehabisan baterai, yang terjadi sekitar setiap tiga hingga empat jam. Robot aktif akan mundur dan berjalan sendiri ke charging station, sementara robot berikutnya langsung mengambil alih dan melanjutkan pekerjaan dari titik yang ditinggalkan. Adcock menyatakan bahwa seluruh tugas diselesaikan secara autonomous oleh tim robot, tanpa ada manusia in the loop sama sekali selama periode tersebut.

Dari perspektif teknis rekayasa robotika, ini adalah demonstrasi nyata dari kemampuan multi-agent coordination dan autonomous task handoff di level produksi. Robot tidak hanya mampu melakukan tugas repetitif dengan konsistensi tinggi, tetapi juga mampu mengelola sumber daya mereka sendiri, berkomunikasi antar unit, dan melakukan self-scheduling secara efisien. Ini jauh melampaui simple automation yang kita kenal di manufacturing line tradisional yang rigid dan pre-programmed. Figure menunjukkan bahwa humanoid robot sudah mencapai level operational maturity yang memungkinkan mereka untuk bekerja dalam shift panjang yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh tenaga kerja manusia.

Bagi tech founder dan engineer di Indonesia, berita ini membawa beberapa implikasi penting yang harus diperhatikan. Pertama, sector logistik dan warehouse automation yang selama ini didominasi oleh robotic arm fixed-base dan AGV kini berpotensi disrupsi oleh humanoid robot yang lebih fleksibel dan adaptable terhadap lingkungan dinamis. Kedua, ketersediaan workforce robot yang bisa bekerja 24/7 tanpa fatigue atau coffee break akan mengubah kalkulasi cost structure secara fundamental untuk fulfillment centers dan distribution hubs di seluruh dunia. Ketiga, integrasi AI modern untuk task coordination antar-robot membuka peluang baru bagi startup yang fokus pada fleet management software dan multi-agent orchestration platform.

Figure juga mengumumkan secara paralel bahwa mereka telah memfinalisasi desain Figure 04, iterasi berikutnya dari robot humanoid mereka. Jika Figure 03 sudah mampu menunjukkan endurance dan reliability tingkat ini dalam environment warehouse yang kompleks, ekspektasi untuk Figure 04 tentu akan semakin tinggi di segala aspek. Secara bersamaan, perusahaan seperti Tesla dengan Optimus dan Boston Dynamics dengan Atlas juga terus mengembangkan humanoid robot mereka masing-masing, menciptakan kompetisi global yang akan mempercepat inovasi dan menurunkan cost production secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tantangan besar yang masih perlu diatasi adalah safety certification dari badan regulator, regulatory compliance terkait tenaga kerja robot, dan social acceptance dari masyarakat. Bekerja berdampingan dengan robot humanoid dalam warehouse environment masih menimbulkan pertanyaan serius tentang workplace safety standards dan liability framework jika terjadi kecelakaan. Selain itu, integrasi robot ke dalam existing warehouse workflows memerlukan redesign proses yang signifikan, bukan sekadar plug-and-play solution. Perusahaan harus mempertimbangkan layout optimization, human-robot collaboration zones, dan maintenance schedules yang berbeda dari equipment tradisional.

Di sisi software dan AI, 200 jam sorting juga mengumpulkan data training yang sangat berharga. Setiap paket yang dipegang, setiap barcode yang discan, dan setiap decision making moment menjadi input untuk memperbaiki model computer vision dan motion planning. Ini menciptakan virtuous cycle di mana semakin banyak robot bekerja, semakin pintar mereka menjadi. Data pipeline ini bisa menjadi competitive moat yang signifikan bagi Figure dibandingkan kompetitor yang masih dalam fase pilot project.

Kesimpulannya, 200 jam continuous sorting oleh Figure robots adalah milestone yang menandakan bahwa humanoid robotics telah keluar dari laboratorium penelitian dan mulai memasuki fase operational deployment yang sebenarnya. Bagi developer dan founder di Indonesia, ini adalah waktu yang tepat untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi serupa bisa diadaptasi untuk konteks lokal, terutama di sektor manufaktur dan logistik yang sedang berkembang pesat dan menghadapi tantangan tenaga kerja.

Perbandingan performa antara robot dan manusia juga memberikan insight menarik tentang trade-off antara speed dan endurance. Dalam sprint pendek, manusia masih unggul dalam hal adaptabilitas dan decision making untuk edge cases yang tidak terduga. Namun dalam marathon shift yang panjang, robot unggul secara dramatis dalam konsistensi dan ketahanan fisik. Kombinasi keduanya dalam workforce hybrid mungkin akan menjadi model optimal untuk warehouse operations di masa depan, di mana robot menangani tugas repetitif dan berat sementara manusia fokus pada supervisory dan exception handling.

Dari perspektif venture capital dan investment, prestasi Figure ini memperkuat narasi bahwa humanoid robotics adalah sector yang layak untuk dilirik. Dengan valuation yang terus meningkat dan demonstrasi kemampuan operasional yang konkret, startup di ruang ini akan semakin menarik perhatian investor global. Bagi founder Indonesia yang berfokus pada robotics atau AI-enabled automation, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk fundraising dan partnership dengan manufacturing companies yang sudah matang.

Teknologi di balik Figure 03 mencakup advanced actuators, balance control algorithms, dan vision systems yang terintegrasi secara seamless. Setiap komponen ini adalah hasil dari years of research dan development yang memerlukan kolaborasi antara mechanical engineering, electrical engineering, dan computer science. Kompleksitas ini juga berarti barrier to entry masih cukup tinggi, memberikan first-mover advantage bagi perusahaan yang sudah mengumpulkan know-how dan intellectual property di bidang ini.