AWS dan Google Cloud Bikin Solusi Interkoneksi Multi-cloud Bersama
Taufiq M
Taufiq M

Dipublikasikan 22 Mei 2026

AWS dan Google Cloud Bikin Solusi Interkoneksi Multi-cloud Bersama

Dua raksasa cloud yang selama ini menjadi rival sengit akhirnya menarik napas bersama. AWS dan Google Cloud secara resmi meluncurkan solusi interkoneksi multi-cloud yang memungkinkan perusahaan untuk memindahkan beban kerja antar kedua platform dengan lebih mulus. Menurut laporan dari The Register, langkah ini menandai perubahan sikap dramatis dari kedua vendor yang sebelumnya menolak untuk mendukung strategi multi-cloud.

Dari Penolakan ke Kolaborasi

Dalam dekade terakhir, AWS dan Google Cloud sama-sama membangun narasi bahwa single-cloud strategy adalah pendekatan terbaik. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen perusahaan enterprise kini menggunakan setidaknya dua penyedia cloud secara bersamaan. Faktor pendorong utama adalah tekanan dari pelanggan yang tidak ingin terjebak dalam vendor lock-in dan kebutuhan regulasi data di berbagai yurisdiksi.

Fitur Interkoneksi Baru

Solusi interkoneksi baru menghadirkan layer 2 dan layer 3 connectivity yang lebih stabil antar data center. Ini mengurangi latensi dan meningkatkan throughput untuk aplikasi real-time. Selain itu, pelanggan kini mendapatkan unified billing dashboard untuk mengelola biaya dari kedua platform dalam satu antarmuka. Fitur identity federation juga memungkinkan akses ke layanan dari kedua cloud menggunakan satu set kredensial.

Dampak bagi Arsitek Cloud di Indonesia

Bagi arsitek cloud dan engineer infrastruktur di Indonesia, kolaborasi ini membuka kemungkinan baru. Startup yang tumbuh di AWS kini bisa mengadopsi BigQuery atau Vertex AI dari Google Cloud tanpa membangun tunnel VPN yang mahal. Perusahaan fintech bisa menempatkan front-end di satu cloud dan back-end di cloud lain dengan interkoneksi dedicated.

Namun, biaya egress tetap menjadi pertimbangan utama. Tim perlu membangun arsitektur yang meminimalkan pergerakan data antar platform, misalnya dengan caching layer atau event-driven architecture.

Tantangan Teknis yang Tersisa

Meski interkoneksi tersedia, kompatibilitas API antar layanan setara belum sepenuhnya seragam. Object storage di AWS dan Google Cloud memiliki model permission dan consistency yang berbeda. Selain itu, orkestrasi container antar cloud masih memerlukan tooling tambahan seperti Anthos, Azure Arc, atau platform third-party seperti Rancher. Belum ada standard bawaan yang mengelola klaster Kubernetes di kedua platform secara native.

Perspektif Masa Depan

Kolaborasi ini bisa menjadi preseden untuk interoperabilitas yang lebih luas. Jika Microsoft Azure bergabung, kita mungkin akan melihat era true multi-cloud. Bagi tim cloud di Indonesia, ini saat yang tepat untuk mengevaluasi strategi multi-cloud dan mendesain aplikasi agar loosely coupled. Seperti yang dilaporkan The Register, pertempuran cloud 2.0 baru saja dimulai.