Unitree Robotics Melonjak 629% di Debut IPO Shanghai, Valuasi Tembus 50 Miliar Dolar
RN
Rafa Nanda

Dipublikasikan 25 Agustus 2026

Unitree Robotics Melonjak 629% di Debut IPO Shanghai, Valuasi Tembus 50 Miliar Dolar

Pasar saham Shanghai mencatat sejarah baru pada Rabu, 19 Agustus 2026, ketika Unitree Robotics resmi melantai di bursa dengan kenaikan luar biasa. Saham perusahaan robot humanoid asal Hangzhou itu melonjak 629% dari harga IPO 150,8 yuan menjadi 1.100 yuan per lembar dalam perdagangan perdana. Dengan capaian ini, Unitree mencatatkan diri sebagai perusahaan robot humanoid pertama di daratan China yang go public, sekaligus mengukuhkan posisi China sebagai kekuatan dominan dalam lomba teknologi robotika global.

Unitree, yang secara resmi bernama Yushu Technology Co., berhasil mengumpulkan 6,1 miliar yuan atau sekitar 904 juta dolar Amerika dalam penawaran perdana. Perusahaan menjual 40,4 juta lembar saham dengan permintaan yang melampaui 8.000 kali jumlah saham yang ditawarkan. Angka oversubscription itu mencatat rekor untuk bursa STAR Market Shanghai sejak peluncurannya. Harga penutupan 844,80 yuan memberikan Unitree kapitalisasi pasar sekitar 341,77 miliar yuan atau setara 50,68 miliar dolar, sebuah angka yang mengejutkan bagi perusahaan yang baru saja beralih ke profitabilitas.

Dari Kerugian ke Keuntungan dalam Dua Tahun

Perjalanan finansial Unitree menunjukkan pertumbuhan eksponensial yang jarang terlihat di sektor hardware. Menurut prospektus perusahaan, pendapatan Unitree meroket dari 159 juta yuan pada 2023 menjadi 1,699 miliar yuan pada 2025, lebih dari sepuluh kali lipat dalam dua tahun. Lebih mengesankan lagi, perusahaan yang sebelumnya mencatat kerugian 18,02 juta yuan berhasil membalikkan neraca menjadi laba bersih 591 juta yuan pada 2025.

Pendapatan utama Unitree berasal dari robot quadruped atau anjing robot yang menyumbang sekitar 42% dari total pendapatan. Namun, segmen robot humanoid tumbuh pesat dengan pengiriman lebih dari 5.500 unit pada 2025, memberikan Unitree pangsa pasar global 32,4% di kategori android. Perusahaan menargetkan pengiriman 10.000 hingga 20.000 unit humanoid robot pada 2026, angka yang jika tercapai akan semakin memperkokoh dominasinya.

Profitabilitas Unitree menjadi pengecualian di industri yang masih didominasi startup pra-pendapatan. Sebagian besar pesaing Unitree masih berjuang mencapai break-even, sementara Unitree telah membuktikan bahwa kombinasi efisiensi manufaktur China dan permintaan pasar yang kuat bisa menghasilkan margin yang sehat. Hal ini menjadi magnet bagi investor institusi maupun ritel yang melihat potensi robot humanoid sebagai kategori teknologi besar berikutnya setelah smartphone dan kendaraan listrik.

Mengapa Investor Memburu Unitree

Kontribusi Unitree dalam ekosistem robotika China tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah Beijing. Presiden Xi Jinping telah mengidentifikasi robot humanoid sebagai "medan teknologi kompetisi baru" dalam strategi teknologi nasional. Unitree menjadi maskot dari dorongan tersebut, dengan investor yang mencakup raksasa teknologi seperti Tencent dan lab AI DeepSeek yang berkolaborasi untuk mengembangkan model embodied intelligence bagi robot humanoid Unitree.

Analis JPMorgan memperkirakan pengiriman robot humanoid global akan naik dari 60.000 unit pada 2026 menjadi 1,75 juta unit pada 2030, dengan China menyumbang lebih dari separuh permintaan global. Unitree diposisikan sebagai salah satu pemenang utama jika proyeksi ini terwujud, berkat keunggulan rantai pasok lokal dalam motor, baterai, elektronik, dan manufaktur. Kolaborasi dengan DeepSeek juga memberikan Unitree akses ke kemampuan AI terdepan yang bisa mempercepat pengembangan "otak" robot, aspek yang dinilai investor semakin penting dibandingkan performa hardware semata.

Bo Ben, CEO Lam Harmo Capital Co., mencatat bahwa pada harga IPO, valuasi Unitree sudah mencerminkan ekspektasi yang cukup optimis. Tantangan jangka panjang, menurutnya, adalah apakah Unitree mampu menerjemahkan keunggulan hardware menjadi kemajuan dalam kemampuan AI. Investor semakin fokus pada world models dan sistem software yang berfungsi sebagai otak robot humanoid, bukan sekadar performa hardware.

Tantangan Komersialisasi dan Risiko Geopolitik

Meski debut pasarnya spektakuler, Unitree menghadapi pertanyaan besar tentang kemampuan mentransformasikan keunggulan hardware menjadi profitabilitas berkelanjutan. Data prospektus menunjukkan bahwa penyebaran industri akun untuk kurang dari 10% dari penjualan pada tiga kuartal pertama 2025, dengan sebagian besar permintaan masih berasal dari institusi riset dan pendidikan. Pasar konsumen masih sangat tidak pasti, sementara aplikasi industri seperti manufaktur, gudang, dan logistik tetap menjadi pasar jangka pendek yang paling jelas.

Di sisi lain, tekanan geopolitik semakin meningkat. Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) pada Juli 2026 melarang impor robot humanoid dan anjing robot buatan luar negeri, langkah yang secara luas dianggap menargetkan China yang menguasai sekitar 85% pasar robot quadruped global. Pentagon juga telah menambahkan Unitree ke daftar perusahaan yang bekerja dengan militer China. Ancaman regulasi ini bisa membatasi ekspansi Unitree ke pasar Barat, yang saat ini menyumbang sekitar 13% dari pendapatannya.

Dalam konferensi pers, Chairman FCC Brendan Carr menyatakan bahwa larangan tersebut dimaksudkan untuk "mengamankan rantai pasok kritis Amerika." Namun pengamat industri memperingatkan bahwa sanksi semacam itu justru bisa mempercepat China membangun ekosistem mandiri yang sepenuhnya terlepas dari komponen dan pasar Amerika, mengulang pola yang terjadi di industri semikonduktor dan kendaraan listrik.

Dampak bagi Ekosistem Robotika Global

Keberhasilan IPO Unitree akan menjadi tolok ukur bagi perusahaan robotika China lainnya yang mengejar listing publik, termasuk Leju Robotics dan Deep Robotics. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa pasar modal daratan China bersedia membiayai ambisi robot humanoid dalam skala besar, sebuah sinyal yang bisa memicu gelombang investasi serupa di sektor ini.

Dan Summers, CEO 1872 dan mantan insinyur SpaceX, menyoroti bahwa Unitree telah membuktikan bahwa robot humanoid bisa mencapai skala produksi masal dengan biaya relatif rendah, sesuatu yang belum berhasil dilakukan oleh Tesla dengan proyek Optimus-nya. Sementara Elon Musk telah mengungkapkan rencana untuk membangun jumlah besar robot Optimus, Tesla belum memasuki produksi massal. Unitree, dengan pengiriman ribuan unit per tahun, telah berada beberapa langkah di depan dalam hal eksekusi manufaktur.

Bagi developer dan engineer di Indonesia, fenomena Unitree memberikan pelajaran penting: pertarungan teknologi masa depan tidak lagi hanya soal software dan model AI, tetapi juga soal kemampuan memproduksi hardware fisik dalam skala besar. China telah membangun fondasi ini selama satu dekade, dan Unitree adalah bukti nyata bahwa investasi tersebut mulai membuahkan hasil di pasar modal. Bagi founder startup hardware di Asia Tenggara, momen ini mengingatkan bahwa kombinasi kebijakan pro-teknologi, ekosistem manufaktur yang matang, dan modal ventura lokal bisa menciptakan kategori teknologi baru dalam waktu singkat.

Sumber: Moneycontrol, Edgen Tech, New York Post