Gemini Robotics 2: Google DeepMind Bawa Kecerdasan ke Seluruh Tubuh Robot
RN
Rafa Nanda

Dipublikasikan 19 Agustus 2026

Gemini Robotics 2: Google DeepMind Bawa Kecerdasan ke Seluruh Tubuh Robot

Google DeepMind baru-baru ini mengumumkan Gemini Robotics 2, sebuah lompatan besar dalam kecerdasan robot yang mampu mengontrol seluruh tubuh humanoid, bukan hanya lengan atas. Dari ujung kaki hingga ujung jari, model ini mengajarkan robot cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi secara cerdas untuk menyelesaikan tugas kompleks. Artikel ini merangkum apa yang membuat Gemini Robotics 2 berbeda dari generasi sebelumnya dan mengapa ini penting bagi masa depan robotika.

Tiga Model untuk Tiga Tantangan Robotika

Gemini Robotics 2 bukan satu model tunggal, melainkan terdiri dari tiga model yang saling melengkapi:

  • Gemini Robotics 2: Vision-language-action model (VLA) paling canggih yang mengubah input visi dan bahasa menjadi kontrol motor. Model ini mampu mengontrol humanoid penuh dan robot bi-arm lainnya, serta membawa tingkat manipulasi dexterous yang baru baik pada tangan maupun gripper.

  • Gemini Robotics ER 2: Embodied reasoning (ER) model yang berfungsi sebagai agent. Model ini memungkinkan robot berkomunikasi dengan manusia, memahami dunia fisik, dan merencanakan tugas multi-step yang berlangsung beberapa menit. Fitur baru yang diperkenalkan adalah kemampuan robot untuk bekerja sama sebagai tim.

  • Gemini Robotics On-Device 2: VLA paling efisien yang dioptimalkan untuk berjalan secara lokal pada perangkat robot. Model ini kini mampu beradaptasi ke embodiment robot yang sepenuhnya baru hanya dengan beberapa jam data.

Gemini Robotics ER 2 sudah tersedia di Google AI Studio dan private preview di Gemini Enterprise Agent Platform. VLA dan On-Device model tersedia untuk early-access partners.

Humanoid dalam Gerak: Mengelola Tugas Whole-Body

Dunia dibangun untuk gerakan manusia: kita harus meraih, membungkuk, dan menyeimbangkan diri di ruang sempit dan berantakan. Sementara model sebelumnya hanya mengontrol bagian atas tubuh humanoid untuk tugas table-top, Gemini Robotics 2 memperluas physical AI ke whole-body motions. Ini adalah pertama kalinya model mereka mampu mengontrol seluruh robot humanoid, menerjemahkan intent menjadi kontrol whole-body yang cerdas.

Sebagai contoh, ketika mengontrol humanoid Apptronik Apollo 2, kita bisa memintanya untuk put the watering can into the green bin in the bottom shelf. Apollo memproses instruksi, berjalan ke meja, mengambil watering can, berjalan beberapa langkah ke rak, dan menempatkannya dengan tepat di tujuannya. Meski kecepatan gerak masih perlu ditingkatkan, ini adalah langkah penting menuju skill yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dunia nyata yang lebih kompleks.

Dexterity Tingkat Lanjut pada Tangan dan Gripper

Untuk benar-benar berguna di rumah dan tempat kerja, robot membutuhkan finesse. Gemini Robotics 2 membuka tingkat dexterity fisik yang baru di berbagai end effector, baik tangan maupun gripper. Model ini kini mampu mengontrol tangan lima jari dengan 22 degree-of-freedom SharpaWave pada robot Apollo 2 untuk menyelesaikan aksi halus seperti mengikat simpul atau menutup ziplock bag.

Selain itu, model ini juga bisa mengoperasikan gripper dua jari standar pada platform Franka Duo untuk melakukan tugas dexterous kompleks seperti tight packing. Google DeepMind terus meningkatkan tingkat presisi dan kecepatan untuk mencapai dexterity setara manusia. Adaptasi cepat ke embodiment baru dalam beberapa jam juga membuka kemungkinan deployment yang lebih fleksibel di berbagai platform robotika.

Kolaborasi Multi-Robot dan Adaptasi Cepat

Salah satu fitur paling menarik dari Gemini Robotics ER 2 adalah kemampuan merencanakan tugas multi-step yang melibatkan beberapa robot bekerja bersama. Bayangkan satu humanoid membersihkan ruangan berantakan sementara robot lain mengatur barang ke rak. ER 2 bisa mengoordinasikan tugas-tugas ini dengan memahami konteks fisik dan merencanakan urutan aksi yang efisien.

Model On-Device 2 yang dioptimalkan untuk berjalan secara lokal memungkinkan robot beroperasi dengan latensi rendah tanpa ketergantungan pada koneksi cloud. Ini kritis untuk aplikasi yang membutuhkan respons real-time seperti manipulasi halus atau navigasi dinamis. Kemampuan beradaptasi ke embodiment baru dalam beberapa jam juga berarti manufaktur tidak perlu melakukan training ulang yang panjang untuk setiap varian robot.

Tantangan dan Masa Depan Robotika Humanoid

Meski kemajuan Gemini Robotics 2 mengesankan, masih ada tantangan signifikan yang harus diatasi sebelum robot humanoid benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecepatan gerak masih jauh di bawah manusia, konsumsi energi tinggi, dan biaya hardware yang mahal adalah hambatan utama. Selain itu, safety dalam interaksi dengan manusia tetap menjadi prioritas tertinggi, terutama ketika robot bekerja di lingkungan yang tidak terstruktur seperti rumah tangga.

Dari perspektif industri, kemampuan beradaptasi ke embodiment baru dalam beberapa jam membuka peluang besar untuk manufaktur. Perusahaan tidak perlu lagi mengembangkan AI stack dari nol untuk setiap model robot. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan Gemini Robotics 2 sebagai intelligence layer dan fokus pada mechanical design. Ini bisa mempercepat inovasi dan menurunkan barrier to entry bagi startup robotika, termasuk di Asia Tenggara.

Bagi developer Indonesia yang tertarik dengan robotika, Gemini Robotics 2 menandakan bahwa masa depan physical AI sudah dekat. Kombinasi vision-language-action dengan reasoning yang kuat adalah fondasi untuk aplikasi robotika yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah. Peluang untuk berkontribusi dalam ekosistem ini terbuka lebar, terutama di bidang integrasi hardware dan aplikasi lokal.

Tantangan dan Masa Depan Robotika Humanoid

Meski kemajuan Gemini Robotics 2 mengesankan, masih ada tantangan signifikan yang harus diatasi sebelum robot humanoid benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecepatan gerak masih jauh di bawah manusia, konsumsi energi tinggi, dan biaya hardware yang mahal adalah hambatan utama. Selain itu, safety dalam interaksi dengan manusia tetap menjadi prioritas tertinggi, terutama ketika robot bekerja di lingkungan yang tidak terstruktur seperti rumah tangga.

Dari perspektif industri, kemampuan beradaptasi ke embodiment baru dalam beberapa jam membuka peluang besar untuk manufaktur. Perusahaan tidak perlu lagi mengembangkan AI stack dari nol untuk setiap model robot. Sebaliknya, mereka bisa menggunakan Gemini Robotics 2 sebagai intelligence layer dan fokus pada mechanical design. Ini bisa mempercepat inovasi dan menurunkan barrier to entry bagi startup robotika, termasuk di Asia Tenggara.

Bagi developer Indonesia yang tertarik dengan robotika, Gemini Robotics 2 menandakan bahwa masa depan physical AI sudah dekat. Kombinasi vision-language-action dengan reasoning yang kuat adalah fondasi untuk aplikasi robotika yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah. Peluang untuk berkontribusi dalam ekosistem ini terbuka lebar, terutama di bidang integrasi hardware dan aplikasi lokal.

Sumber: Google DeepMind Blog, Google Developer Blog