OpenAI dan Jony Ive Siapkan Smart Speaker Berbentuk Donat Harga 300 Dolar AS
ND
Naufal Dev

Dipublikasikan 6 Agustus 2026

OpenAI dan Jony Ive Siapkan Smart Speaker Berbentuk Donat Harga 300 Dolar AS

Perangkat AI pertama hasil kolaborasi OpenAI dengan mantan desainer Apple Jony Ive mulai terungkap secara detail. Menurut laporan Bloomberg yang dikutip The Verge, perangkat tersebut merupakan smart speaker tanpa layar yang berbentuk seperti donat dan berukuran sekitar puck hoki. Ia akan berjalan dengan baterai dan rencananya diluncurkan pada 2027 dengan harga di atas 300 dolar AS. Bentuk yang tidak konvensional ini menunjukkan bahwa OpenAI ingin membedakan produknya dari smart speaker yang sudah memenuhi pasar.

Gadget ini disebut akan memiliki tampilan unik lengkap dengan bagian yang bergerak secara mandiri untuk menunjukkan kapan perangkat sedang merespons atau berinteraksi dengan pengguna. Selain itu, perangkat ini juga dilengkapi lampu, sistem kamera, dan sensor lainnya. Meski Jony Ive terlibat secara langsung dalam desain, perangkat ini tidak akan terlihat seperti produk Apple. Hal ini cukup menarik mengingat Apple saat ini tengah berada dalam perang hukum dengan OpenAI terkait dugaan pencurian rahasia dagang dan pergerakan engineer antara kedua perusahaan. Konflik hukum ini menambah kompleksitas di balik lahirnya perangkat baru tersebut.

Dari Konsep ke Bentuk Fisik

Selama lebih dari setahun, Sam Altman dan Jony Ive diketahui telah bekerja sama di balik layar untuk menciptakan perangkat AI yang benar-benar baru. Altman sebelumnya mengatakan bahwa produk ini bukan sekadar AI girlfriend yang aneh. Mereka ingin menciptakan sesuatu yang bermakna dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar gimmick teknologi yang cepat dilupakan. Visi ini sejalan dengan pendekatan Jony Ive selama di Apple, di mana desain selalu berangkat dari kebutuhan manusia, bukan spesifikasi teknis semata.

Greg Brockman, presiden OpenAI, juga mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang membangun keluarga perangkat untuk chatbot AI mereka. Ini menandakan bahwa smart speaker yang akan datang bukanlah produk tunggal, melainkan pintu gerbang ke ekosistem hardware AI OpenAI yang lebih luas. Pendekatan ini mirip dengan cara Apple membangun ekosistem iPhone, iPad, dan Mac, di mana setiap perangkat saling melengkapi untuk menciptakan pengalaman yang seamless. OpenAI tampaknya ingin meniru playbook Apple, tetapi dengan kekuatan AI generatif sebagai diferensiator utama.

Smart speaker ini dirancang agar mudah dibawa berkeliling rumah dengan satu tangan, mirip dengan Amazon Tap yang sudah dihentikan. Menurut sumber Bloomberg, perangkat ini akan bekerja mirip dengan mode suara ChatGPT di aplikasi smartphone, tetapi dengan model yang lebih canggih untuk interaksi yang lebih mirip manusia. Ia akan mampu memahami konteks percakapan yang lebih panjang dan memberikan respons yang lebih natural dibandingkan asisten suara konvensional. Fitur baterai yang bisa dibawa-bawa juga membedakannya dari kebanyakan smart speaker yang membutuhkan colokan listrik terus-menerus.

Persaingan di Pasar Smart Home

Jika harganya memang di atas 300 dolar AS, perangkat ini akan bersaing di segmen premium smart home. Harga tersebut menjadikannya lebih mahal dari Amazon Echo atau Google Nest Audio, tetapi lebih terjangkau dibandingkan beberapa perangkat AI wearable yang sempat muncul belakangan ini seperti Rabbit R1 atau Humane AI Pin yang justru gagal memenuhi ekspektasi pasar. Kegagalan perangkat AI sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi OpenAI untuk tidak melebih-lebihkan kemampuan produk saat peluncuran.

Amazon dan Google telah mendominasi pasar smart speaker selama bertahun-tahun dengan harga yang sangat kompetitif, bahkan sering dijual di bawah harga modal untuk mengunci pengguna ke ekosistem mereka. OpenAI tidak memiliki ekosistem smart home yang mapan seperti kedua raksasa tersebut. Oleh karena itu, perangkat ini harus menawarkan nilai yang jauh lebih tinggi dari sekadar asisten suara yang bisa menyalakan lampu atau memutar musik. Ia harus menjadi companion digital yang benar-benar membantu produktivitas dan kreativitas pengguna, hampir seperti asisten pribadi yang benar-benar mengenal preferensi dan kebiasaan pemiliknya.

Posisi harga di atas 300 dolar AS juga mengisyaratkan bahwa perangkat ini akan dibatasi untuk pasar early adopters dan tech enthusiasts di awal peluncuran. Strategi ini mirip dengan cara Apple meluncurkan produk baru: targetkan kelompok pengguna paling loyal dan kaya terlebih dahulu, lalu turunkan harga setelah skala produksi meningkat. Namun risikonya adalah perangkat AI sebelumnya yang dijual mahal justru gagal karena tidak bisa membuktikan value proposition yang cukup kuat untuk menjustifikasi harganya.

Peluang untuk Ekosistem Tech Indonesia

Bagi developer dan founder Indonesia, pergerakan OpenAI ke arah hardware ini menunjukkan bahwa ekosistem AI tidak lagi sekadar perangkat lunak. Integrasi antara model AI dan hardware khusus bisa membuka peluang baru untuk inovasi lokal, terutama di bidang IoT dan smart home yang terus berkembang di pasar Asia Tenggara. Indonesia dengan populasi besar dan pertumbuhan kelas menengah yang pesat merupakan pasar potensial untuk perangkat AI yang terjangkau dan relevan dengan kebutuhan lokal. Perangkat yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan terintegrasi dengan layanan lokal akan memiliki daya tarik besar.

Startup lokal bisa mempelajari arsitektur thinking di balik Kitesurf dan perangkat OpenAI ini untuk menciptakan solusi hybrid yang menggabungkan model bahasa lokal atau regional dengan hardware yang disesuaikan untuk pasar Indonesia. Bayangkan perangkat serupa yang terintegrasi dengan layanan e-commerce lokal, platform transportasi, atau bahkan sistem pembayaran digital. Peluangnya sangat terbuka bagi yang berani berinovasi tanpa harus menunggu raksasa teknologi global datang ke pasar domestik. Ekosistem startup Indonesia yang sudah mapan di fintech dan e-commerce bisa memperluas sayap ke hardware AI dengan kerja sama strategis.

Dalam jangka panjang, keberhasilan atau kegagalan perangkat OpenAI-Jony Ive ini akan memberikan sinyal kuat kepada seluruh industri tentang apakah konsumen siap membayar premium untuk hardware AI yang benar-benar fungsional, ataukah mereka lebih memilih solusi gratis yang terintegrasi dalam smartphone yang sudah mereka miliki. Developer Indonesia sebaiknya memantau perkembangan ini dengan cermat untuk menentukan timing yang tepat jika ingin memasuki pasar hardware AI.