Dipublikasikan 28 Juni 2026
Kecerdasan buatan tidak lagi sekadar alat untuk menulis kode atau membuat konten. Seorang pasien bernama Antoine baru-baru ini berbagi pengalamannya menggunakan Claude Code untuk mendapatkan second opinion terhadap hasil MRI shoulder yang diberikan oleh dokter orthopedi. Kasus ini menarik perhatian banyak pihak karena menunjukkan potensi AI dalam membantu pasien memahami diagnosis medis mereka secara lebih mendalam dan kritis.
Dalam artikelnya yang dipublikasikan di antoine.fi, Antoine menceritakan bahwa ia merasa dokter yang menangani kasusnya terlalu tergesa-gesa dalam menentukan treatment plan. Setelah keluar dari klinik, ia memutuskan untuk menganalisis sendiri hasil MRI menggunakan Claude Code dengan model Opus 4.8. Keputusan ini bukan tanpa risiko, namun Antoine merasa perlu untuk memverifikasi diagnosis sebelum menjalani treatment yang cukup invasif dan berpotensi mengubah kualitas hidupnya.
Antoine mengalami nyeri di bahu kanan selama beberapa minggu. Meski kondisinya tampak membaik, ia tetap memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter orthopedi untuk memastikan tidak ada masalah serius. Setelah pemeriksaan awal, dokter menyarankan MRI untuk melihat kondisi tendon dan jaringan lunak di sekitar bahu. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya Grade III partial-thickness tear dengan lebar lebih dari 50 persen pada apical insertion tendon subscapularis.
Dokter langsung menyarankan treatment yang cukup ekstensif dan bahkan sempat melakukan beberapa prosedur segera setelah MRI selesai. Merasa ada yang tidak beres dengan kecepatan pengambilan keputusan, Antoine meminta salinan hasil MRI lengkap beserta daftar treatment yang diberikan. Ia kemudian mengirimkan hasil tersebut ke GPT 5.5 Pro untuk mendapatkan perspektif tambahan sebelum melanjutkan treatment lebih lanjut.
AI tersebut langsung menandai dua hal yang mencurigakan. Pertama, dokter melakukan shockwave therapy padahal guideline terbaru menyatakan bahwa prosedur ini tidak direkomendasikan untuk rotator-cuff tendinopathy tanpa kalsifikasi, dan hasil ultrasound menunjukkan tidak ada kalsifikasi. Kedua, dokter menyuntikkan Traumeel yang ternyata terdaftar sebagai obat homeopati tanpa indikasi terapeutik yang jelas di Jerman. Temuan ini semakin memperkuat kecurigaan Antoine bahwa treatment plan yang diberikan mungkin tidak sepenuhnya berdasarkan evidence-based medicine.
Untuk analisis lebih mendalam, Antoine menggunakan Claude Code dengan model Opus 4.8 pada mode xhigh. Ia memberikan paket DICOM hasil MRI yang berisi beberapa ratus file tanpa ekstensi dengan total ukuran sekitar 266 MB. Format DICOM memang standar dalam industri medis, namun kompleksitasnya sering kali membuat pasien awam kesulitan untuk memahami isinya tanpa bantuan profesional.
Sebelum memulai analisis, Claude Code diperintahkan untuk menginstal package yang diperlukan untuk pemrosesan gambar medis. Perbedaan antara Claude Code dan antarmuka chat biasa sangatlah signifikan. Claude Code memiliki kemampuan untuk menjalankan kode, menginstal library, dan melakukan pekerjaan komputasi yang intensif secara mandiri dalam environment lokal. Antoine hanya memberikan instruksi singkat: nyeri bahu kanan selama dua sampai tiga minggu. Faktanya, informasi yang diberikan ke AI ini bahkan lebih sedikit dibandingkan yang diterima oleh dokter manusia.
Setelah sekitar satu jam pemrosesan, Claude Code menghasilkan laporan PDF lengkap dengan analisis visual yang detail. Hasil yang sangat mengejutkan: di tempat dokter melihat Grade III partial-thickness tear, Claude Code melaporkan tendon dalam kondisi intact atau utuh. Perbedaan ini sangat ekstrem dan membuat Antoine semakin ragu dengan diagnosis awal. Meski AI tidak bisa dianggap sebagai otoritas medis, hasil yang kontradiktif seperti ini menunjukkan pentingnya second opinion.
Untuk mengadili perbedaan pendapat ini, Antoine meminta Claude Code melakukan perbandingan langsung antara laporan dokter dan laporan AI. Kali ini ia memberikan konteks tambahan berupa diskusi dengan ChatGPT 5.5 Pro mengenai gerakan dan posisi yang bisa membantu mengidentifikasi diagnosis sebenarnya. Dengan informasi tambahan ini, Claude Code bisa memberikan analisis yang lebih nuanced dan kontekstual.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya second opinion dalam diagnosis medis, terutama ketika treatment plan melibatkan prosedur invasif atau biaya tinggi. AI tidak bisa menggantikan dokter, namun AI bisa menjadi alat bantu yang powerful untuk memverifikasi informasi dan memberikan perspektif tambahan. Bagi pasien, memahami kondisi medis mereka secara lebih baik berarti bisa mengambil keputusan yang lebih informed dan bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri.
Pengalaman Antoine menunjukkan bahwa AI agent seperti Claude Code sudah cukup matang untuk menangani tugas-tugas kompleks di luar domain programming. Analisis gambar medis, pembandingan laporan klinis, dan verifikasi treatment plan adalah tugas-tugas yang membutuhkan reasoning yang mendalam dan kemampuan memproses informasi dalam jumlah besar. Namun demikian, AI tetap harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti profesional medis.
Di Indonesia, di mana akses ke second opinion dari spesialis sering kali terbatas oleh biaya dan lokasi geografis, teknologi seperti ini bisa menjadi equalizer yang signifikan. Pasien di daerah terpencil bisa mendapatkan perspektif tambahan tanpa harus melakukan perjalanan jauh ke kota besar. Tentu saja, regulasi dan etika penggunaan AI di kesehatan masih perlu disusun dengan hati-hati untuk melindungi pasien dari misinformasi dan diagnosis yang salah.
Kisah Antoine adalah gambaran nyata bagaimana AI bisa memberdayakan pasien dalam perjalanan kesehatan mereka. Meski hasil analisis AI tidak selalu benar dan masih memerlukan validasi manusia, keberadaannya sebagai alat verifikasi dan pembelajaran sudah sangat berharga. Developer yang membangun sistem kesehatan digital di Indonesia bisa melihat kasus ini sebagai inspirasi untuk mengintegrasikan AI agent dalam workflow yang lebih luas, mulai dari triase pasien hingga edukasi kesehatan yang lebih personal dan terjangkau.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu