Dipublikasikan 8 Juni 2026
Ada sebuah konsep yang belakangan menggema di sudut-sudut diskusi teknologi: dopamine fracking. Seperti fracking minyak yang menghancurkan lapisan bumi untuk mengambil sumber daya dengan cepat, praktik ini merujuk pada bagaimana teknologi modern mengekstrak dan mengkonsentratkan dopamine dari pengalaman manusia hingga tak tersisa apa pun kecuali hit semenit yang kosong. Sebagai developer yang setiap hari memikirkan engagement metrics, saya merasa konsep ini seperti telanjang: ia memperlihatkan sesuatu yang selama ini kita tahu ada, tapi sengaja abaikan.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh I. German dalam sebuah essay yang menggambarkan fenomena dengan metafora yang sangat visceral: sebuah rig minyak yang mengebor langsung ke dalam otak kita. Ia menyebutnya dopamine fracking karena prosesnya identik dengan hidrolik fraktur: pompa sumber daya yang sangat besar, uang, analytics, optimasi, dan crowd-sourced opinion, ke dalam aktivitas yang sebelumnya bersifat kasual atau kompleks, untuk memaksa keluar hit dopamine paling murni dan terkonsentrasi. Tanpa memedulikan apapun kecuali dopamine itu sendiri.
German sempat menyebut istilah ini dengan nama lain: sloptimization, sebuah kombinasi dari sloppy dan optimization. Istilah yang juga digunakan komunitas AI untuk mendeskripsikan proses mengoptimasi model agar lulus benchmark, meski performa sesungguhnya merosot. Tapi sloptimization tidak cukup menangkap sifat destruktif dari fenomena ini. Kata seperti komodifikasi, industrialisasi, atau over-consumption terlalu steril. Mereka terdengar seperti istilah ekonomi, bukan deskripsi dari sesuatu yang benar-benar menghancurkan budaya, kreativitas, dan koneksi manusia.
Dan ini bukan masalah teknis semata. Ini adalah masalah filosofis. Kita sebagai builder, sebagai engineer, sebagai orang-orang yang merancang sistem, seringkali berpikir bahwa optimasi adalah kebaikan mutlak. Lebih cepat, lebih efisien, lebih scalable, lebih engaging. Tapi setiap kali kita menambahkan satu layer optimasi pada pengalaman manusia, kita sebenarnya sedang mengurangi satu dimensi dari kompleksitasnya. Sampai pada titik di mana segalanya konvergen ke satu titik tunggal: nol dimensi.
Bayangkan sebuah stroberi. Buah yang kompleks, dengan ratusan senyawa yang memberikan rasa unik pada setiap individu stroberi. Ada yang putih, ada yang merah, ada yang masam, ada yang manis, ada yang aromatik, ada yang juicy. Pengalaman memakan satu stroberi adalah pengalaman analog yang indah, tidak sempurna, dan unik. Bahkan dalam satu keranjang stroberi, tidak ada dua buah yang identik.
Namun industri makanan tidak menginginkan kompleksitas. Mereka ingin konsistensi. Maka mereka mengekstrak senyawa aromatik utama dari stroberi, mensintesisnya, dan memasukkannya ke dalam permen murah, kue mahal, dan minuman instan. Hasilnya? Hit rasa stroberi yang sangat terkonsentras dan konsisten. Murah untuk diproduksi. Lebih scalable. Tapi pengalaman itu telah kehilangan segalanya: tekstur, juice, keunikan rasa, kegembiraan menemukan stroberi yang sangat manis, bahkan rasa jijik saat menemukan seekor ulat. Semua direduksi menjadi satu senyawa tunggal. Dan lama-kelamaan, kita lupa bagaimana rasa stroberi sesungguhnya. Atau lebih buruk: kita lebih memilih senyawa sintetisnya.
Ini persis yang terjadi pada hampir setiap aspek kehidupan digital kita. Musik menjadi semakin klise dan formulaik. Video YouTube menjadi semakin MrBeast-y: thumbnail yang sama, pacing yang sama, struktur yang sama. Film superhero Marvel mengikuti template visual yang identik. Website modern menjadi semakin flat, semakin homogen, semakin Instagram-y. Komunitas online yang dulunya kompleks dan layered, menjadi feed yang teroptimasi untuk engagement tertinggi. Semua yang penting adalah dopamine hit. Konsekuensi jangka panjang diabaikan. Bukan karena kejahatan, tapi karena rasanya sangat adiktif, dan orang-orang hanya ingin mendapatkan hit berikutnya.
Sebagai engineer, kita sering berbangga dengan kemampuan untuk mengoptimasi. Kita mengukur click-through rates, retention metrics, time-on-site, dan conversion funnels. Kita A/B test headline, warna tombol, dan posisi notifikasi. Tapi sedikit dari kita yang bertanya: optimasi untuk apa? Apakah lebih tinggi engagement selalu berarti lebih baik? Atau apakah kita sedang membangun mesin yang secara sistematis merusak kemampuan pengguna kita untuk merasa puas, tenang, dan bermakna?
Sebuah penelitian tentang algorithmic monocultures menunjukkan bahwa ketika algoritma digunakan untuk hiring, mereka cenderung mengkonvergen pada satu profil kandidat yang sama, mengurangi diversitas dan mengabaikan nuansa individual. Ini adalah manifestasi yang lebih formal dari dopamine fracking: kompleksitas manusia direduksi menjadi fitur yang bisa diukur, dan semua yang tidak masuk dalam metrik tersebut dianggap noise. Noise yang harus dihilangkan.
Tapi kehidupan manusia bukan noise. Keunikan, keanehan, ketidaksempurnaan, dan kompleksitas adalah inti dari apa yang membuat kita manusia. Ketika kita merancang sistem yang secara sistematis mengekstrak dan mengkonsentrasikan dopamine, kita bukan hanya membangun produk yang lebih engaging. Kita sedang merancang budaya yang homogen, dangkal, dan tanpa makna.
German menulis bahwa ia mulai secara bertahap mematikan dopamine fracking dalam hidupnya: menghapus channel dan feed yang memancing emosi, uninstall aplikasi, dan menetapkan batasan pada apa yang akan ia konsumsi. Menjadi sadar akan konsep ini membuatnya lebih mudah untuk menavigasi dunia. Ketika ia merasakan sebuah video hanya mencoba memberikan hit dopamine, ia berhenti menonton dan menutup tab. Ia menyebutnya immensely liberating.
Dan saya setuju. Sebagai developer, ada kekuatan yang luar biasa dalam memilih untuk tidak mengoptimasi. Memilih untuk membangun produk yang lebih lambat, lebih kompleks, lebih unik. Memilih untuk tidak mengejar engagement metrics demi engagement metrics. Memilih untuk membiarkan pengguna bosan, karena kebosanan adalah bagian dari kreativitas. Memilih untuk tidak memanipulasi reward system manusia dengan notifikasi, infinite scroll, dan gamification yang terlalu intens.
Tapi ini pilihan yang sulit. Dalam dunia yang didorong oleh growth metrics dan venture capital, memilih untuk tidak memfracking dopamine pengguna adalah memilih untuk kalah. Produk yang lebih adiktif akan mengalahkan produk yang lebih bermakna. Dan itu adalah realitas pasar yang harus kita akui.
Tidak ada solusi sederhana untuk dopamine fracking. Ia adalah hasil dari sistem insentif yang jauh lebih besar dari individu mana pun. Tapi kesadaran adalah langkah pertama. Dan bagi kita yang membangun teknologi, kesadaran ini membawa tanggung jawab.
Setiap kali kita merancang fitur baru, setiap kali kita menulis algoritma rekomendasi, setiap kali kita menambahkan notifikasi push, kita harus bertanya: apakah kita sedang membangun sesuatu yang memperkaya pengalaman manusia, atau apakah kita sedang membangun rig minyak yang mengebor dopamine dari otak mereka? Karena perbedaan antara keduanya mungkin hanya beberapa baris code. Tapi dampaknya bisa merusak generasi.
Jadi pertanyaan yang saya tinggalkan: apakah kita, sebagai builder, punya keberanian untuk membangun teknologi yang lebih lambat, lebih kompleks, dan lebih manusiawi? Atau apakah kita akan terus mengoptimasi sampai tak ada yang tersisa untuk dioptimasi?
Sumber inspirasi utama: Dopamine Fracking oleh I. German
Gambar: Unsplash
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu