Beberapa hari yang lalu saya melihat konten video yang cukup bagus di youtube. Disana dibahas kenapa perusahaan sekarang lebih suka freelancer. Di tengah lonjakan platform digital dan aplikasi on-demand, istilah “gig economy” kini merambah hampir semua sektor, bukan hanya desain grafis atau content creator, tapi juga sopir, tukang bersih-bersih, hingga analis data. Banyak narasi yang beredar: negara gagal melindungi pekerja, atau perusahaan sengaja menekan upah. Keduanya benar, tapi terlalu sering membuat kita terjebak menunggu “pihak yang jahat” berubah. Artikel ini menawarkan jalan keluar: melihat gig economy sebagai titik awal pekerja, bukan negara atau korporasi, mengambil kendali.
Dulu satu orang menyelesaikan satu proyek utuh. Sekarang, satu proyek diiris menjadi puluhan micro-task. Perusahaan menyebutnya efisiensi. Pekerja menyebutnya incaran biaya hidup.
Perubahan ini bukan kebetulan.
Modal bukan makhluk emosional, tapi ia punya rasa takut yang jelas:

Kalau dua risiko ini bisa ditekan, profit aman.
Istirahat, scroll TikTok, nonton review film, semua terlihat buang waktu. Padahal itu mesin bahan bakar kreativitas. Sayangnya, bahan bakar ini tidak dibayar. Platform justru memanennya:
Platform akan terus memperpendek kontrak. Pemerintah akan terus menunda aturan. Tapi kreativitas, yang lahir dari kebosanan, dari diskusi warung kopi, dari playlist Spotify, tetap tidak bisa diasetkan utuh. Mulai sekarang, buat grup chat, undang dua teman seprofesi, dan ketik: “Guys, tarif kita mulai hari ini sama, OK?”
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu