Vibe Coding dan Agentic Engineering Mulai Bertumpang Tindih
KR
Kevin Ray

Dipublikasikan 11 Juli 2026

Vibe Coding dan Agentic Engineering Mulai Bertumpang Tindih

Dunia pengembangan software sedang menyaksikan pergeseran paradigma yang menarik. Simon Willison, developer veteran dengan pengalaman 25 tahun, baru-baru ini mengungkapkan sebuah realisasi yang mengganggunya: batas antara vibe coding dan agentic engineering mulai kabur dalam praktik kerjanya sendiri. Pernyataan ini, yang diungkapkan dalam podcast High Leverage dari Heavybit seperti dikutip di blog pribadinya, menyoroti dinamika kompleks yang sedang terjadi di balik hype AI-assisted programming.

Willison sebelumnya dikenal sebagai pengkritik tajam yang membedakan keras antara vibe coding dan agentic engineering. Baginya, vibe coding adalah praktik di mana pengguna tidak melihat kode sama sekali. Mereka mungkin bukan programmer, hanya meminta sesuatu, menerima hasilnya, dan jika tidak berfungsi, mereka memberi tahu AI lalu berdoa. Tidak ada kepedulian terhadap code quality, security, atau maintainability. Sementara agentic engineering adalah penggunaan AI tools oleh software engineer profesional yang tetap memahami security, maintainability, operations, dan performance. Tapi kini, Willison mengakui bahwa pembagian tersebut tidak lagi sejelas dulu.

Mengapa Batasnya Makin Kabur?

Willison menjelaskan bahwa ia mulai merasakan pergeseran ini dalam pekerjaan sehari-harinya. Sebagai engineer profesional, ia selalu berpegang pada standar tinggi: memahami arsitektur, memastikan security, dan memikirkan long-term maintenance. Namun, dengan semakin canggihnya AI coding tools, tugas-tugas yang dulunya memerlukan perhatian manual kini bisa didelegasikan ke agent dengan tingkat kepercayaan yang semakin tinggi.

Akibatnya, bahkan seorang engineer berpengalaman seperti Willison menemukan diri mereka sedikit demi sedikit mengurangi oversight manual. Agent menangani boilerplate, refactoring, dan bahkan beberapa decision-making. Yang tersisa untuk manusia adalah steering di level tinggi dan verifikasi hasil akhir. Praktik ini secara teknis masih agentic engineering karena yang melakukannya adalah engineer profesional, tetapi mekanismenya mulai mirip dengan vibe coding: berikan instruksi tingkat tinggi, lalu percayakan eksekusi.

Pergeseran ini bukan berarti standar menurun. Willison menekankan bahwa fondasi 25 tahun pengalamannya sebagai software engineer tetap menjadi penyangga. Ia memiliki kemampuan untuk mengenali kapan output AI bermasalah, kapan arsitektur perlu direvisi, dan kapan keputusan teknis penting harus diambil manusia. Tapi tidak bisa dipungkiri, proporsi waktu yang dihabiskan untuk menulis kode baris demi baris terus berkurang. Tools seperti Copilot, Cursor, dan Claude Code semakin mampu menangani implementasi detail secara mandiri.

Dampak terhadap Profesionalisme

Blurring boundary ini membawa pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah software engineering masih sama profesinya jika semakin sedikit waktu dihabiskan untuk coding manual? Menurut Willison, jawabannya tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan profesionalisme. Jika profesionalisme berarti menguasai setiap baris kode dalam codebase, maka era itu mungkin sudah berakhir. Tapi jika profesionalisme berarti kemampuan untuk mengarahkan sistem kompleks, memastikan kualitas, dan membuat keputusan teknis yang tepat, maka agentic engineering adalah evolusi natural profesi tersebut.

Yang menjadi masalah adalah ketika developer junior mulai karir mereka di era ini. Mereka mungkin tidak pernah mengalami fase menulis kode secara intensif, memahami edge cases, atau debugging tanpa bantuan AI. Willison memperingatkan bahwa ini bisa menciptakan generasi engineer yang kehilangan intuisi fundamental. Tanpa intuisi tersebut, mereka akan kesulitan untuk mengenali kapan AI salah, mengapa arsitektur tertentu tidak cocok, atau bagaimana mengoptimalkan performa di level rendah. Gap ini akan semakin lebar seiring dengan bertambahnya kompleksitas sistem yang dibangun.

Etika dan Tanggung Jawab

Willison juga mengingatkan bahwa vibe coding boleh saja dilakukan untuk personal tools di mana risiko kegagalan rendah. Jika ada bug, yang dirugikan hanya pengguna sendiri. Tapi ketika membangun software untuk orang lain, terutama yang menangani data sensitif atau infrastruktur kritis, vibe coding adalah perilaku yang secara moral tidak bertanggung jawab. Bayangkan jika sistem perbankan atau rumah sakit dibangun dengan pendekatan cross fingers dan berharap berhasil.

Agentic engineering, meski mulai bertumpang tindih dengan vibe coding dalam mekanisme, harus tetap mempertahankan garis etis ini. Engineer profesional tidak bisa serta-merta menyerahkan keputusan kritis kepada AI tanpa due diligence. Verifikasi, testing, code review, dan audit tetap menjadi tanggung jawab manusia. AI adalah multiplier, bukan pengganti. Memperlakukan AI sebagai black box yang bisa dibiarkan bekerja tanpa pengawasan adalah resep untuk bencana teknis dan keamanan.

Apa yang Harus Dilakukan Developer?

Bagi developer yang sedang menavigasi era transisi ini, Willison menyarankan untuk tetap membangun fondasi yang kuat. Pahami dasar-dasar computer science, algoritma, dan arsitektur software sebelum terlalu bergantung pada AI. Fondasi inilah yang memungkinkan Anda untuk mengenali kualitas output AI dan membuat keputusan yang tepat. Jangan tergoda untuk skip fundamentals hanya karena AI bisa menghasilkan kode dengan cepat.

Kedua, jadilah intentional dalam penggunaan AI tools. Pahami kapan Anda menggunakan AI sebagai asisten yang terkontrol dan kapan Anda mulai melonggarkan kontrol. Self-awareness adalah kunci untuk tetap berada di jalur agentic engineering tanpa terperosok ke territory vibe coding yang tidak bertanggung jawab. Lakukan refleksi reguler terhadap workflow Anda dan tanyakan pada diri sendiri apakah Anda masih memahami apa yang sedang dibangun.

Terakhir, investasikan waktu untuk memahami cara kerja model AI yang Anda gunakan. Bukan berarti harus memahami setiap parameter neural network, tetapi setidaknya pahami keterbatasannya, bias yang mungkin dimilikinya, dan cara memformulasikan prompt yang menghasilkan output berkualitas. Skill ini, yang kini sering disebut sebagai agentic engineering literacy, akan menjadi differentiator utama di pasar kerja masa depan.

Era baru software development telah tiba. Tantangannya bukan untuk menolak perubahan, melainkan untuk mengarahkannya dengan bijak. Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman Willison, bahkan para veteran pun sedang belajar menavigasi perbatasan yang kabur ini. Yang membedakan profesional dari amatir adalah kesadaran akan perbatasan tersebut dan komitmen untuk tidak menyeberanginya tanpa alasan yang kuat.