Dipublikasikan 6 Juli 2026
Platform deploy Vercel kini menangani 6 juta deployment per hari, di mana separuhnya dipicu oleh coding agent. Lebih dari 1 triliun token mengalir melalui AI Gateway Vercel setiap harinya. Dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch setelah konferensi ShipNYC, CEO Guillermo Rauch membuka-bukaan soal arah industri AI dan bagaimana platform seperti Vercel justru bersaing langsung dengan laboratorium AI besar.
Menurut Rauch, tahun lalu adalah era prototyping: semua orang berebut membuat prototipe agent. Namun sekarang, realitas produksi mulai terasa. Ia menyebut ada dua killer app agent yang benar-benar home run. Pertama, coding agent yang telah mengubah cara developer bekerja. Kedua, internal agent yang membantu perusahaan mengoperasikan bisnis secara lebih efisien.
Coding agent sudah jelas dampaknya. Cursor, Devin, dan tool serupa telah menggeser cara penulisan kode. Tapi tantangan muncul ketika produksi software meningkat drastis: butuh tempat untuk deploy. Di sinilah Vercel menangkap peluang besar. Internal agent, sisi lain dari koin, punya tantangan berbeda: bagaimana mengakses data perusahaan dengan aman, mengaudit setiap tool call, dan menerapkan kontrol akses yang ketat.
Untuk itu Vercel membangun framework bernama Eve, di mana instruksi dan skill agent bisa ditulis dalam bahasa natural. Ada pula Vercel Sandbox, sebuah lingkungan terisolasi di mana agent bisa bekerja dengan kebebasan terbatas sementara kebijakan akses data diterapkan secara ketat. Sandbox ini mencegah skenario di mana coding IDE salah konfigurasi dan mengirim seluruh codebase perusahaan ke cloud untuk training model.
Rauch menegaskan bahwa industri sedang memutuskan apakah model dan agent akan tetap terpisah. Menurutnya, pendekatan software engineering tradisional justru lebih masuk akal: ambil modul atau library dari satu penyedia, lalu bangun di atasnya. Itulah visi Vercel sebagai AWS bagi generasi AI ini.
Klien yang awalnya loyal pada satu lab partner seperti OpenAI atau Anthropic, kini mulai melihat setiap komponen sebagai plug-and-play. Model, harness, data platform, sandbox, gateway: semua bisa diganti-ganti. Gemini tumbuh signifikan karena price-to-performance ratio yang kompetitif, sementara model open source seperti DeepSeek dan GLM-5.2 juga mulai mengambil porsi pasar.
Rauch tidak menampik bahwa Vercel bersaing langsung dengan laboratorium AI. Baru-baru ini OpenAI merilis tool yang memungkinkan publish langsung ke web tanpa keluar dari ekosistem ChatGPT. Tapi Rauch melihat ini sebagai kesempatan: ketika orang mulai berpikir ChatGPT sebagai tool pembuat website, model akan merekomendasikan Vercel untuk hosting infrastruktur.
Bagi developer di Indonesia, tren pemisahan model dan agent membuka peluang besar. Kita tidak lagi terjebak pada satu ekosistem LLM. Dengan platform seperti Vercel, tim kecil bisa membangun agent production-ready tanpa harus mengelola infrastruktur server sendiri. Gateway AI yang mendukung multi-provider juga memungkinkan optimasi biaya, sesuatu yang sangat penting untuk startup dengan budget terbatas.
Selain itu, konsep sandboxing untuk agent perlu segera diadopsi oleh perusahaan lokal yang mulai menerapkan AI internal. Jangan sampai agent yang seharusnya membantu malah membocorkan data sensitif pelanggan ke model publik. Security-first mindset harus jadi fondasi, bukan afterthought.
Eve memungkinkan developer mendefinisikan perilaku agent menggunakan bahasa natural, sebuah pendekatan yang menurunkan barrier to entry bagi tim non-teknis. Sales representative di Vercel kini bisa meminta data akun yang tumbuh paling cepat dalam dua minggu terakhir tanpa menunggu dashboard baru dibangun oleh tim engineering. Eve menerjemahkan permintaan tersebut ke dalam serangkaian tool call yang terauditi dan terkontrol.
Ini adalah pergeseran paradigma yang signifikan. Sebelumnya, akses data internal memerlukan proyek Q1 untuk membangun dashboard Salesforce. Sekarang, dengan Eve, hal yang sama bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Rauch menyebut ini sebagai democratization of internal tooling, di mana setiap karyawan bisa membangun tool yang mereka butuhkan tanpa menunggu tim R&D.
Meski menjanjikan, agent di produksi menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Audit trail menjadi krusial ketika agent memiliki akses ke sistem internal. Siapa yang bertanggung jawab jika agent salah mengirim email ke klien? Bagaimana melacak serangkaian keputusan yang diambil oleh agent otonom? Vercel menjawabnya dengan logging granular dan access control yang bisa dikonfigurasi per agent.
Data control juga jadi prioritas utama. Rauch bercerita tentang percakapannya dengan presiden Airbus yang khawatir codebase C++ dekadean untuk aerospace engineering bisa bocor ke cloud karena IDE yang salah konfigurasi. Vercel Sandbox dirancang untuk mencegah kebocoran semacam itu dengan mengisolasi agent dari data sensitif kecuali secara eksplisit diizinkan.
Salah satu insight menarik dari Rauch adalah pertumbuhan Gemini yang signifikan di kalangan enterprise. Meski tidak sepopuler OpenAI di media, Gemini menawarkan price-to-performance yang sangat kompetitif untuk beban kerja produksi. Model open source seperti DeepSeek dan GLM-5.2 juga mulai banyak diadopsi, terutama oleh perusahaan yang ingin menjaga data tetap di dalam lingkungan mereka sendiri.
Multi-provider strategy ini sejalan dengan filosofi Vercel: jangan mengunci diri pada satu vendor. Developer bisa menggunakan OpenAI untuk tugas yang membutuhkan reasoning kompleks, Gemini untuk batch processing besar, dan model lokal untuk data sensitif. Fleksibilitas ini akan menjadi norma di tahun-tahun mendatang.
Vercel sedang memposisikan diri sebagai infrastruktur fundamental bagi era AI agent. Dengan 6 juta deployment harian dan 1 triliun token yang diproses, mereka bukan lagi sekadar platform static site. Pemisahan model dan agent, framework Eve, serta Vercel Sandbox adalah bukti bahwa perusahaan ini memikirkan production readiness secara serius. Bagi developer Indonesia, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai bereksperimen dengan arsitektur agent yang terbuka dan aman.
Sumber: TechCrunch
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu