Dipublikasikan 10 Juni 2026
Fenomena vibe coding tidak hanya mengubah cara developer menulis kode, tetapi juga mengubah lanskap startup infrastruktur. Supabase, startup yang menyediakan backend tools untuk aplikasi AI, baru saja mengumumkan pendanaan USD 500 juta dengan valuasi USD 10,5 miliar. Nilai ini hampir dua kali lipat dari valuasi terakhir mereka pada Oktober lalu.
Supabase menjadi penerima manfaat langsung dari ledakan popularitas tools AI-assisted coding seperti Anthropic Claude Code dan OpenAI Codex. Menurut CEO dan co-founder Paul Copplestone, tools semacam ini kini bertanggung jawab atas mayoritas database yang dibuat di platform Supabase, dengan Claude Code menjadi kontributor terbesar pada tahun 2026.
Supabase menawarkan layanan backend open-source yang dibangun di atas PostgreSQL. Developer bisa menyimpan data, mengautentikasi user sign-up dan login, serta membangun dan menskalakan aplikasi dalam satu platform. Kombinasi ini sangat cocok untuk vibe coders yang membangun aplikasi dengan cepat melalui text prompts tanpa harus memikirkan konfigurasi infrastruktur backend yang rumit.
Copplestone mengungkapkan bahwa ide ini pernah gagal saat pertama kali dipitch ke investor pada 2014. Namun setelah menghadapi masalah scaling di startup lain, ia membangun tooling sekitar PostgreSQL dan merilisnya ke publik pada 2020. Popularitas yang tiba-tiba muncul menjadi momen yang tepat untuk membangun startup yang ia impikan.
Putaran pendanaan ini dipimpin oleh GIC dan melibatkan investor kenamaan seperti Accel, Y Combinator, Craft, Felicis, Coatue, serta Stripe. Sejak diluncurkan pada 2020 bersama CTO Ant Wilson, Supabase telah menarik lebih dari 250.000 pelanggan dan membangun tim dengan 350 karyawan.
Supabase kini menantang layanan database dari perusahaan seperti MongoDB dan Amazon Aurora. Arun Mathew, partner di Accel, menyebutkan bahwa laju pertumbuhan Supabase adalah fenomenal dan belum pernah terlihat sebelumnya di layer database. We haven't seen a company grow at this pace, certainly in the database layer, ever, ever before, katanya.
Bersamaan dengan pengumuman pendanaan, Supabase juga meluncurkan preview tool baru bernama Multigres yang bertujuan membantu perusahaan menskalakan aplikasi hingga ukuran OpenAI atau lebih besar. Ini menandakan ambisi Supabase untuk tidak hanya melayani developer individual dan startup, tetapi juga enterprise skala besar.
Fenomena vibe coding telah menciptakan permintaan baru untuk platform backend yang mudah digunakan dan scalable. Developer yang sebelumnya tidak memiliki skill teknis mendalam kini bisa membangun aplikasi fungsional dalam hitungan jam. Ini berarti mereka membutuhkan infrastruktur yang bisa mengikuti kecepatan development tanpa mengorbankan reliability atau keamanan.
Startup AI infrastructure seperti Supabase menjadi hot commodity bagi investor. Pada Mei 2025, Databricks membeli startup database Neon dengan nilai sekitar USD 1 miliar. Tren ini menunjukkan bahwa pasar sangat antusias dengan tools yang mendukung AI-native development workflow.
Bagi developer Indonesia, pertumbuhan Supabase menandakan bahwa PostgreSQL tidak pernah semenarik ini untuk dipelajari. Kombinasi antara open-source database yang solid dengan tooling modern untuk AI development menjadikan Supabase pilihan yang patut dipertimbangkan untuk proyek startup berikutnya.
Sumber: CNBC
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu