Dipublikasikan 25 Juli 2026
Perusahaan asuransi kesehatan Curative membuat gejolan di dunia teknologi ketika CEO-nya, Fred Turner, mengumumkan bahwa startup tersebut membatalkan kontrak Salesforce senilai $600 ribu per tahun dan menggantinya dengan sistem CRM hasil vibe coding dalam waktu dua bulan. Pengakuan ini, yang disampaikan dalam podcast 20VC with Harry Stebbings dan dilaporkan oleh Business Insider, menjadi salah satu bukti paling konkret bahwa fenomena SaaSpocalypse bukan sekadar narasi pasar saham yang dibesar-besarkan oleh media finansial. Ini adalah realitas operasional yang sedang dijalankan oleh perusahaan yang berani berpikir ulang tentang software procurement.
Curative bahkan berencana memangkas sekitar 80% pengeluaran SaaS tahun ini, mengalihkan anggaran yang sebelumnya digunakan untuk subscription software enterprise ke AI dan solusi custom-built. Turner mengakui bahwa maintenance sistem hasil vibe coding memang menjadi salah satu tantangan terbesar, namun ekonomi keseluruhan tetap menguntungkan perusahaan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun hype vibe coding seringkali berfokus pada kecepatan development, sisi operasional jangka panjang masih merupakan medan pertempuran yang belum banyak dibicarakan secara terbuka.
Proses pengembangan CRM pengganti dilakukan menggunakan pendekatan vibe coding, di mana AI coding agent menjadi penggerak utama penulisan kode dengan intervensi manusia yang minimal. Hasilnya adalah sistem yang cukup fungsional untuk menggantikan platform enterprise dengan harga premium dalam waktu singkat. Meskipun Salesforce menanggapi dengan menekankan bahwa 150.000 perusahaan masih menggunakan platform mereka dan alat mereka dibangun untuk menavigasi regulasi kompleks seperti HIPAA, kasus Curative menunjukkan bahwa untuk kebutuhan spesifik yang tidak memerlukan fitur enterprise seluas Salesforce, solusi custom bisa jadi lebih efisien baik dari sisi biaya maupun fleksibilitas.
Turner juga mengungkapkan bahwa pengeluaran Curative untuk Anthropic telah melonjak enam kali lipat setiap bulan dalam enam hingga tujuh bulan terakhir, dari puluhan ribu dolar menjadi jutaan dolar per bulan. Meskipun biaya AI meningkat drastis, ia yakin ekonomi tetap akan berfungsi bahkan jika Anthropic menaikkan harga lima kali lipat. Ia menjelaskan bahwa perusahaan mereka justru terus menemukan use case baru untuk AI, sehingga spending terus meningkat secara organik. Fenomena ini menunjukkan bahwa transisi dari SaaS ke AI bukan sekadar substitution, melainkan expansion: perusahaan melakukan lebih banyak hal yang sebelumnya tidak mungkin atau tidak ekonomis.
Salah satu contoh paling menarik dari efisiensi AI di Curative adalah Gwen, agent AI bespoke yang mereka gunakan untuk menegosiasikan kontrak dengan dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya. Sebelum menggunakan AI, menyelesaikan satu kontrak rata-rata menghabiskan biaya $1.500 hingga $2.000 ketika ditangani oleh tim manusia. Dengan Gwen, biaya rata-rata turun menjadi sekitar $70 per kontrak. Perbedaan hampir 95% ini bukan sekadar efisiensi, melainkan transformasi unit ekonomi yang memungkinkan skala operasional baru.
Strategi Curative adalah menggunakan agent tersebut untuk meningkatkan volume kontrak yang diselesaikan, bukan hanya menghemat biaya per kontrak. Turner menjelaskan dengan gamblang: "Kami akan menyelesaikan 10 kali lipat volume kontrak tahun ini dibandingkan tahun lalu, dan kemudian kami akan mencoba 20 kali lipat." Pendekatan ini menunjukkan bahwa vibe coding tidak hanya tentang penggantian software existing, tetapi juga tentang membuka kapasitas operasional yang sebelumnya tidak mungkin dicapai dengan tim manusia terbatas. Dalam konteks ini, AI bukan pengganti tenaga kerja, melainkan multiplier yang memungkinkan perusahaan mengeksplorasi frontier baru dalam skala bisnis.
Meskipun narasi penghematan biaya menggema di berbagai media, Turner jujur mengakui bahwa maintenance adalah "definitely one of the most challenging pieces" dalam transisi ke solusi custom. Ini sejalan dengan kritik yang sering muncul terhadap vibe coding: kode yang dihasilkan AI mungkin cukup baik untuk MVP dan proof of concept, tetapi sustainability jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar. Codebase yang dibangun oleh AI tanpa arsitektur yang matang bisa menjadi technical debt time bomb yang meledak ketika sistem sudah terlalu besar untuk di-refactor.
Perdebatan antara Marc Benioff, CEO Salesforce, yang menyebut bahwa SaaS justru menjadi lebih baik dengan agent, versus narasi SaaSpocalypse yang didukung oleh data penurunan saham perusahaan software sebesar 20% hingga 50%, masih akan berlangsung lama. Namun
Perubahan ini tidak terjadi dalam isolasi. Industri teknologi secara keseluruhan sedang menyaksikan pergeseran besar dari model subscription-based ke model capability-based, di mana perusahaan membayar untuk output dan efisiensi daripada untuk akses ke platform. Salesforce melihat sahamnya turun bersama perusahaan software enterprise lainnya pada awal 2026 ketika investor mulai khawatir dengan adopsi AI coding agent. Meskipun Marc Benioff menekankan bahwa demand untuk Salesforce tetap kuat dan bahkan Anthropic masih menggunakan Salesforce, data dari pasar menunjukkan bahwa perusahaan kecil dan menengah semakin banyak mencari alternatif yang lebih fleksibel dan tidak mengikat.
Untuk developer, fenomena ini membuka dua peluang sekaligus. Pertama, permintaan untuk developer yang bisa membangun solusi custom dengan AI akan meningkat seiring perusahaan menyadari bahwa mereka tidak perlu terikat pada platform monolitik. Kedua, kebutuhan untuk maintenance dan iterasi solusi hasil vibe coding menciptakan kategori pekerjaan baru yang menggabungkan kemampuan AI prompting dengan understanding terhadap business logic dan arsitektur software. Developer yang hanya bisa menulis prompt untuk AI tanpa memahami konsekuensi arsitektural akan kesulitan mempertahankan solusi mereka dalam jangka panjang. Sebaliknya, developer yang memadukan vibe coding dengan solid engineering practices akan menemukan diri mereka di posisi yang sangat diminati.
bagi developer, kasus Curative adalah sinyal bahwa kemampuan untuk membangun solusi custom dengan AI bukan lagi sekadar skill tambahan yang menarik: ini sedang menjadi kompetensi inti dalam transformasi digital enterprise. Developer yang hanya mengandalkan konfigurasi platform SaaS tanpa kemampuan membangun solusi custom dengan AI berisiko kehilangan relevansi di pasar yang semakin menuntut fleksibilitas dan efisiensi biaya.Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu