"Kalau AI yang menulis kode, lalu apa bedanya kita dengan product manager yang bisa prompt?"
Pertanyaan itu muncul di grup chat komunitas developer beberapa hari lalu, tepat setelah salah satu anggota memamerkan MVP-nya yang 90 persen kodenya digenerate oleh Cursor dan Claude. Yang menarik: dia bukan engineer berpengalaman. Dia founder bisnis yang tiga bulan lalu masih belajar bedanya const dan let. Dalam seminggu, dia membangun fitur yang biasanya butuh sprint dua minggu oleh tim engineering tiga orang.
Kita semua tahu fenomena ini dengan nama vibe coding. Istilah yang dipopulerkan oleh Andrej Karpathy di awal tahun ini untuk menggambarkan cara programming di mana kamu "merasakan" alur kode lewat bahasa natural, membiarkan AI menangani sintaks dan bug, sementara fokusmu hanya pada visi produk. Tidak ada debugging panjang, tidak ada memori tentang API esoterik, tidak ada memahami thread safety. Hanya prompt, iterasi, dan deploy.
Secara definisi, ini adalah kemajuan. Tapi ada sesuatu yang menggelitik di benakku: apa yang sebenarnya kita banggakan selama ini sebagai software engineer?
Sebelum era ini, keahlian engineering diukur dari kemampuan memahami kompleksitas. Kamu dihormati karena bisa menelusuki race condition di sistem terdistribusi, karena tahu kenapa garbage collector behaving weirdly di heap size tertentu, karena bisa mengoptimasi query yang tadinya memakan 12 detik jadi 12 milidetik. Skill itu membutuhkan tahunan. Ia membentuk identitas. Ia adalah craft yang membedakan engineer senior dengan copy-paster Stack Overflow.
Kini, sebagian besar dari craft itu bisa di-outsource ke model bahasa. Junior developer yang masuk industri hari ini mungkin tidak pernah mengalami momen frustrasi mencari memory leak selama tiga hari. Mereka tidak pernah merasakan euforia menemukan bug setelah membaca source code library orang lain baris demi baris. Mereka tidak belajar thinking in systems karena sistemnya sekarang bersembunyi di balik chat interface yang ramah.
Ini bukan kritik terhadap alat. Saya sendiri pengguna harian Cursor, Claude Code, dan berbagai AI coding tools. Produktivitas saya naik tiga kali lipat. Tapi produktivitas naik bukan tanpa biaya. Ada trade-off yang jarang kita bicarakan secara terbuka: kecepatan eksekusi mengikis kedalaman pemahaman.
Matt Welsh, dalam esainya yang provokatif "The End of Programming" di Communications of the ACM, berargumen bahwa programming klasik sebagai disiplin akan segera usang. Menurutnya, masa depan computing bukanlah menulis kode, melainkan melatih model dan mengarahkannya dengan tugas-tugas tingkat tinggi. Banyak yang menolak argumennya saat itu. Tapi lihat kita sekarang. Vibe coding adalah bukti bahwa prediksinya tidak terlalu liar.
Yang membuatku khawatir bukanlah hilangnya pekerjaan. Pekerjaan akan bertransformasi, seperti yang selalu terjadi. Yang membuatku khawatir adalah hilangnya pathway untuk menjadi engineer yang benar-benar mengerti. Dulu, untuk membangun aplikasi kompleks, kamu harus naik tangga kompetensi satu per satu: dari variabel, ke loop, ke data structure, ke concurrency, ke arsitektur. Setiap anak tangga memperkuat pemahamanmu tentang cara komputer bekerja. Sekarang, tangga itu bisa kamu lewati. Kamu bisa naik elevator langsung ke lantai 20. Tapi apa yang terjadi saat elevator macet di lantai 10 dan kamu tidak tahu cara menaiki tangga?
Kita mulai melihat gejala ini. Diskusi di Hacker News ramai dengan cerita tentang codebase yang dibuat AI tapi tidak bisa di-maintain. Bukan karena kodenya jelek secara sintaks, tapi karena tidak ada manusia di tim yang benar-benar paham alur data end-to-end. Stack overflow yang dulu dihindari kini muncul dalam bentuk baru: model hallucination yang diteruskan ke production karena tidak ada yang memahami domain problem cukup dalam untuk mendeteksinya.
Bukan berarti kita harus menolak kemajuan. Luddisme tidak pernah menjadi jawaban yang konstruktif. Tapi kita perlu jujur tentang apa yang sedang terjadi: kita sedang menukar depth dengan breadth. Lebih banyak fitur, lebih banyak MVP, lebih banyak produk. Tapi lebih sedikit pemahaman, lebih sedikit mastery, lebih sedikit engineer yang bisa melihat arsitektur secara utuh tanpa bantuan AI.
Mungkin ini adalah evolusi natural. Mungkin software engineering akan berubah menjadi disiplin yang lebih mirip arsitektur bangunan: sebagian besar pekerjaan detail ditangani teknologi, tapi tetap membutuhkan arsitek yang memahami prinsip-prinsip fundamental. Atau mungkin tidak. Mungkin kita akan hidup di dunia di mana 90 persen software dibangun oleh non-engineer dengan bantuan AI, dan 10 persen engineer elite menangani infrastruktur kritis yang tidak bisa ditoleransi gagal.
Yang jelas, identitas kita sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi "seberapa banyak kode yang bisa kamu tulis?" melainkan "seberapa baik kamu bisa memandu AI untuk menulis kode yang benar, aman, dan sustainable?" Itu adalah skill yang berbeda. Lebih mirip product thinking dibandingkan computer science. Dan tidak ada yang salah dengan itu, asalkan kita sadar bahwa kita sedang meninggalkan sesuatu yang berharga di belakang.
Jadi, apa bedanya kita dengan product manager yang bisa prompt? Mungkin, untuk saat ini, tidak banyak. Tapi mungkin bedanya ada di kemauan untuk tetap menggali lebih dalam, meski elevator sudah tersedia. Karena suatu saat, elevator akan penuh. Dan orang-orang yang tahu jalan tangga akan menjadi yang paling berharga.
Bagaimana denganmu? Apakah kamu masih menulis kode secara manual, atau sudah full vibe coding? Apakah kamu merasa keahlianmu semakin dalam, atau justru semakin tergantikan oleh autocomplete?
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu