
Dipublikasikan 11 Februari 2026
Dunia Artificial Intelligence (AI) lagi heboh banget gara-gara ByteDance resmi rilis model video generatif terbaru mereka yang dijuluki Seedance 2.0. Banyak yang bilang, ini salah satu AI video terkuat di dunia saat ini, soalnya bisa bikin video naratif yang kualitasnya udah hampir siap tayang, plus ada kontrol langsung selevel sutradara film. Tapi di balik kecanggihannya, muncul juga drama soal etika AI dan privasi wajah manusia yang bikin topik ini makin panas.
Drama Seedance 2.0 mulai viral setelah Tim (Pan Tianhong), salah satu blogger teknologi terkenal asal Tiongkok, melakukan pengetesan langsung. Tanpa ribet, dia cuma upload satu foto wajahnya — tanpa input suara atau teks tambahan sama sekali. Hasilnya? Seedance 2.0 sukses bikin voiceover yang mirip banget sama suara aslinya. Tim sampai bilang "mengerikan" berkali-kali, karena AI ini bisa 'nebak' karakter kepribadiannya cuma dari satu gambar. Banyak orang jadi was-was soal risiko penyalahgunaan data biometrik dan fitur kloning potret tanpa izin.
Pas heboh di medsos, ByteDance dan tim Ji Meng AI (anak perusahaannya) langsung ambil langkah cepat. Fitur real person reference sementara dihentikan. Mereka bilang, ini demi menjaga ekosistem kreatif AI yang sehat. ByteDance juga menekankan, kreativitas itu ada batasnya: harus tetap menghormati privasi orang lain. Langkah ini jadi contoh nyata strategi 'launch first, regulate later' yang sering muncul di dunia AI.
Meski ada kontroversi, secara teknis Seedance 2.0 tetap jadi benchmark baru dalam AI video generatif, berkat beberapa fitur next level berikut:
Sekarang, Seedance 2.0 masuk di top-tier bareng Sora 2 (OpenAI), Kling 3.0 (Kuaishou), dan Veo 3.1 (Google). Ada beberapa perbandingan utama buat para creator:
Efek rilis Seedance 2.0 dan Kling 3.0 langsung terasa. Saham AI dan media di Tiongkok naik sampai 20%, dan banyak pelaku industri anggap ini sebagai game changer yang bakal bikin biaya produksi turun drastis. Feng Ji (produser Black Myth: Wukong) sampai bilang model kayak gini bakal ubah logika produksi film masa depan.
Buat kamu yang pengen coba, Seedance 2.0 udah bisa diakses di platform Ji Meng (Dreamina), atau lewat API pihak ketiga kayak ChatArt. Fitur privasi memang masih dibatasi demi keamanan data, tapi ini bukti kalau era 'tim produksi solo' udah datang — satu orang bisa ngurus storyboard, syuting, editing, sampai sound design sekaligus dalam satu platform.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu