Dunia komputasi performa tinggi atau High Performance Computing kembali diguncang oleh berita mengejutkan dari ajang ISC 2026 di Hamburg, Jerman. Dalam daftar TOP500 ke-67 yang dirilis pada konferensi tersebut, sebuah sistem baru dari China berhasil merebut posisi nomor satu dunia. LineShine Supercomputer, yang berlokasi di Shenzhen, menjadi sistem China pertama yang masuk TOP500 dalam sembilan tahun terakhir, dan mereka langsung datang dengan spesifikasi yang sangat agresif.
Menurut laporan dari Chips and Cheese, LineShine bukan sekadar superkomputer biasa. Sistem ini sepenuhnya berbasis CPU tanpa akselerator GPU, sebuah pencapaian yang sangat langka di era komputasi exascale saat ini. Keberhasilan LineShine membuktikan bahwa arsitektur CPU-only masih bisa bersaing di level tertinggi jika didesain dengan cermat dan efisien.
Jantung dari LineShine adalah prosesor LX2, sebuah chip berbasis arsitektur Armv9 dengan dukungan SVE2 dan SME. Setiap core dilengkapi dengan 32 KB L1 instruction cache dan 32 KB L1 data cache. Secara fisik, chip dibangun dari dua compute dies, dengan masing-masing die berisi empat cluster 40-core. Dua core dinonaktifkan per cluster, meninggalkan 38 core aktif per cluster atau 152 core aktif per die.
Setiap cluster didukung oleh 28,5 MB L2 cache, sehingga setiap die memiliki 114 MB L2 dan paket LX2 penuh memiliki 304 core aktif dengan total 228 MB L2 cache. Kecepatan clock mencapai 1,55 GHz dengan quoted performance 60,3 TFLOP/s FP64 per CPU pada daya 690 watt. Paket ini juga dilengkapi delapan stack memori berkecepatan tinggi dengan total 32 GB dan bandwidth 4 TB/s, yang kemungkinan merupakan pengembangan memori asli China.
Karena kapasitas 32 GB relatif kecil untuk CPU sebesar ini, setiap LX2 juga didukung oleh 256 GB DDR5 sebagai tier spillover yang lebih besar. Di level node, setiap node memiliki dua CPU LX2 dengan konektivitas 800 Gbps per node. Delapan node digabungkan menjadi satu compute blade, dengan 16 blade per frame dan dua frame per cabinet. Total keseluruhan sistem terdiri dari 90 compute cabinet yang berarti lebih dari 22.000 node dan 13 juta core CPU.
LineShine mencatatkan performa sustained FP64 atau Rmax sebesar 2,198 exaflops dari theoretical peak 2,735 exaflops. Sistem ini mengonsumsi daya 42,22 megawatt dengan efisiensi 52,07 gigaflops per watt. Meskipun efisiensinya masih di bawah puncak Green500 yang mencapai 73,282 gigaflops per watt, angka ini sangat mengesankan untuk sistem CPU-only.
Yang lebih menarik, LineShine juga memuncaki benchmark HPCG dengan hasil 22,004 petaflops per detik, mengungguli El Capitan yang mencatat 17,406 petaflops per detik. Berbeda dengan superkomputer China sebelumnya yang sering dicurigai sebagai LINPACK-special, LineShine membuktikan kemampuannya pada workload aplikasi nyata yang lebih kompleks. Ini menunjukkan bahwa sistem ini benar-benar dirancang untuk komputasi ilmiah, bukan sekadar untuk meraih posisi puncak daftar.
LineShine datang dan langsung menggeser posisi-posisi sebelumnya. Fugaku, superkomputer legendaris dari Jepang, kini turun ke posisi sembilan meskipun usianya sudah enam tahun. Fugaku masih menempati posisi ketiga di daftar HPCG, yang membuktikan bahwa desain yang fokus pada HPC bisa bertahan lama meski spesifikasi hardware sudah ketinggalan zaman.
Di posisi keenam muncul sistem HPC7 dari Eni Italia. Secara fungsional ini adalah versi mini dari El Capitan dengan ukuran 30 persen dari sistem aslinya, menggunakan platform HPE Cray EX4000 dan AMD Instinct MI300A APU. Italia kini memiliki lebih banyak compute power di TOP500 dibandingkan negara lain di Eropa, meski Jerman memiliki sistem exascale satu-satunya di benua tersebut.
Di sisi efisiensi, daftar Green500 tidak mengalami perubahan di posisi sepuluh besar untuk pertama kalinya dalam sejarahnya. Namun demikian, pensiunnya sistem-sistem lama berarti efisiensi keseluruhan lapangan HPC meningkat dalam enam bulan terakhir. Tren ini menunjukkan bahwa meski tidak ada breakthrough di puncak, industrinya secara keseluruhan semakin hijau.
Kemunculan LineShine memunculkan spekulasi mengenai sistem exascale China lainnya seperti Sunway Oceanlight dan CNIS. Apakah China akan mengajukan sistem-sistem tersebut ke TOP500 atau memilih untuk merahasiakannya? Sejarah menunjukkan bahwa China sering kali tidak mengajukan semua sistem andalannya ke daftar publik.
Di Amerika Serikat, kehadiran LineShine kemungkinan akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk Department of Energy dalam membangun superkomputer yang lebih besar. Persaingan geopolitik di bidang HPC tidak pernah berhenti, dan setiap negara ingin memastikan mereka memiliki kemampuan komputasi untuk riset ilmih, keamanan nasional, dan inovasi teknologi.
Yang menarik, mengapa sistem AI raksasa seperti xAI Colossus 2 dengan lebih dari 550.000 GPU Blackwell tidak muncul di TOP500? Mungkin perusahaan AI lebih fokus pada training throughput daripada benchmark HPL tradisional. Atau mungkin mereka tidak ingin memperlihatkan kekuatan komputasi sebenarnya kepada publik. Apapun alasannya, kesenjangan antara HPC klasik dan AI infrastructure semakin membesar.
LineShine membuktikan bahwa inovasi dalam HPC tidak monopoli satu atau dua negara. Dengan desain CPU-only yang efisien dan performa aplikasi yang kuat, China kembali menjadi pemain utama dalam lomba komputasi exascale. Bagi developer dan engineer di Indonesia, perkembangan ini adalah pengingat bahwa fondasi hardware masih menjadi pilar penting dalam ekosistem teknologi, dan pemahaman akan arsitektur sistem besar tetap menjadi skill yang sangat berharga.
Dapatkan feedback, users, dan eksposur dari komunitas kreator, developer, dan entrepreneur digital Indonesia.
Submit Produk → Pelajari Dulu