OpenAI Ajukan Pendaftaran IPO Rahasia, Siap Go Public Setelah Anthropic
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 8 Juni 2026

OpenAI Ajukan Pendaftaran IPO Rahasia, Siap Go Public Setelah Anthropic

Pembuat ChatGPT, OpenAI, secara resmi mengajukan pendaftaran rahasia untuk penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat. Pengumuman ini disampaikan melalui blog resmi perusahaan pada Senin waktu setempat dan langsung mencuri perhatian pasar modal global. Langkah ini datang tidak lama setelah rival utamanya, Anthropic, juga mengajukan berkas serupa, mempertegas persaingan sengit antara dua raksasa AI yang mendominasi industri kecerdasan buatan generatif. Dalam konteks pasar modal yang sedang memanas, keputusan OpenAI ini menjadi salah satu isu teknologi paling penting sepanjang tahun 2026.

Menurut laporan dari TechCrunch, OpenAI yang terakhir kali dinilai mencapai USD 852 miliar post-money telah mengirimkan draf pernyataan pendaftaran ke Securities and Exchange Commission (SEC). Perusahaan belum memberikan detail spesifik mengenai harga saham atau target penggalangan dana. Namun, OpenAI mengaku memublikasikan pengumuman ini karena mereka menduga informasi akan bocor ke publik sebelum waktunya. Pilihan untuk mengajukan pendaftaran secara rahasia memungkinkan OpenAI mempersiapkan diri tanpa harus mengungkapkan risiko bisnis secara terbuka di tahap awal.

Dalam pengumumannya, OpenAI menyebutkan bahwa belum ada keputusan final terkait waktu pelaksanaan IPO. Bisa jadi masih akan memakan waktu karena ada beberapa hal yang ingin kami lakukan dan kemungkinan lebih mudah dilakukan sebagai perusahaan privat, tulis perusahaan dalam blog resminya. Meski demikian, langkah ini memberikan opsi untuk go public lebih cepat jika dinilai sebagai keputusan terbaik bagi semua stakeholder. Fleksibilitas ini penting mengingat dinamika pasar yang cepat berubah dan persaingan yang semakin ketat dengan Anthropic.

Mengapa OpenAI Memilih IPO Sekarang?

Filing ini menjadi sinyal terbaru bahwa 2026 akan menjadi tahun blockbuster untuk pasar publik teknologi. SpaceX juga diprediksi akan melakukan debut IPO dengan valuasi USD 1,75 triliun. Artinya, tiga perusahaan teknologi yang paling dinantikan bisa go public dalam rentang waktu berbulan-bulan, konsentrasi yang belum pernah terjadi sejak era dot-com boom pada awal tahun 2000-an. Investor institusional dan ritel di seluruh dunia sedang mengamati dengan cermat bagaimana perusahaan AI akan dinilai di pasar publik setelah bertahun-tahun mendominasi pasar privat.

David Shapiro, CEO OpenVC dan pengawas NYSE OpenVC 500 Index, menyebutkan bahwa persaingan untuk mencapai pasar publik lebih dulu menjadi perhatian serius. Pakar pasar modal menyatakan siapa yang debut lebih dulu akan mengamankan lebih banyak modal yang semakin langka bagi perusahaan AI. Hal ini penting mengingat biaya pelatihan model bahasa besar (LLM) terus melonjak dari tahun ke tahun dan investor mulai lebih selektif. Modal ventura yang sebelumnya mengalir deras kini mulai menuntut bukti profitabilitas yang lebih konkret sebelum menyuntikkan dana tambahan.

Tantangan Finansial yang Dihadapi

Di balik euforia IPO, OpenAI tengah menghadapi tekanan finansial yang cukup besar. Chief Financial Officer Sarah Friar dikabarkan pernah mengungkapkan kekhawatiran bahwa OpenAI mungkin tidak mampu menopang pengeluaran data center yang masif. Pada Maret 2026, OpenAI berhasil mengamankan USD 122 miliar dalam putaran pendanaan terbesar sejarah Silicon Valley. Namun perusahaan memperkirakan akan menghabiskan jumlah serupa untuk komputasi AI pada tahun 2028. Angka ini menunjukkan betapa mahalnya infrastruktur yang diperlukan untuk menjaga keunggulan kompetitif di bidang AI generatif.

Proyeksi internal yang dilansir The Wall Street Journal menunjukkan OpenAI akan membakar USD 85 miliar pada tahun 2028 meski pendapatan telah berlipat ganda dari tahun sebelumnya. Dengan kata lain, OpenAI meminta investor pasar publik untuk membeli bisnis yang berdasarkan proyeksi internalnya baru akan menghasilkan kas positif setidaknya empat tahun lagi. Ini adalah taruhan besar yang menunjukkan optimisme ekstrem terhadap masa depan AI. Bagi investor konservatif, skema finansial seperti ini bisa dianggap terlalu spekulatif, namun bagi yang percaya pada transformasi AI, ini adalah kesempatan emas.

Persaingan dengan Anthropic dan SpaceX

Anthropic memberikan gambaran finansial yang lebih cerah. Perusahaan tersebut menyatakan sudah mendekati profit kuartalan pertama. Meski demikian, dengan putaran pendanaan USD 65 miliar dan potensi utang chip USD 36 miliar, burn rate Anthropic juga tidak bisa disebut rendah. Valuasi Anthropic bahkan sempat menyentuh USD 1 triliun di pasar sekunder, melampaui OpenAI yang tercatat sekitar USD 880 miliar pada April 2026. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar percaya pada model bisnis Anthropic yang lebih berhati-hati dan berfokus pada keamanan.

Shapiro menambahkan bahwa dari sudut pandang investor sekunder, OpenAI masih menunjukkan valuasi yang sangat sukses. Kami belum melihat OpenAI anjlok atau apa pun yang mendekatinya, ujarnya kepada TechCrunch. Meski demikian, Anthropic mencatat apresiasi 123% year-to-date versus 11,3% milik OpenAI. Meski demikian, keduanya masih dianggap sebagai pemenang bersama dalam lomba LLM global. SpaceX, dengan valuasi yang lebih besar dan model bisnis yang lebih matang, kemungkinan akan menarik perhatian institusional yang lebih besar lagi.

Dampak bagi Ekosistem AI Global

IPO OpenAI akan membawa implikasi besar bagi seluruh ekosistem AI. Dengan sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan, ChatGPT telah membangun skala yang signifikan. Perusahaan juga telah mengembangkan produk untuk enterprise dan pemerintah, meski citranya masih lebih konsumen-oriented dibanding Anthropic yang lebih fokus pada bisnis dan keamanan. Transisi ke perusahaan publik akan membawa tingkat transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi, yang bisa menjadi pedoman bagi startup AI lainnya di seluruh dunia.

Langkah ini juga datang setelah pergolakan internal yang signifikan, termasuk pemberhentian Sam Altman pada 2023 yang berakhir dengan pemulihannya. Sejak itu, OpenAI juga menghadapi beberapa tuntutan hukum, termasuk dari negara Florida yang menuduh perusahaan merugikan anak-anak dengan memberikan informasi berbahaya. Semua ini akan menjadi bahan pemeriksaan tajam bagi calon investor publik dan regulator. Pergolakan governance yang belum terselesaikan sepenuhnya menjadi risiko yang harus diperhitungkan oleh siapa pun yang ingin berinvestasi.

Bagi founder, developer, dan investor teknologi di Indonesia, IPO OpenAI patut diperhatikan sebagai sinyal bahwa investasi di AI akan semakin masif dan regulasi di sekitar teknologi ini akan semakin ketat di pasar global. Perusahaan AI lokal juga perlu mempersiapkan governance dan compliance yang kuat jika ingin menarik modal serupa di masa depan. Ini adalah era di mana AI tidak lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan komoditas finansial yang menentukan arah pasar modal dunia.