Netflix Ungkap Harga Akuisisi Startup AI Milik Ben Affleck: 587 Juta Dollar
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 17 Juli 2026

Netflix Ungkap Harga Akuisisi Startup AI Milik Ben Affleck: 587 Juta Dollar

Netflix akhirnya membuka keran rahasia soal harga akuisisi startup AI milik Ben Affleck, InterPositive. Dalam filing SEC terbaru yang dirilis Jumat lalu, raksasa streaming tersebut mengungkapkan bahwa mereka menggelontorkan 587 juta dollar AS secara tunai untuk perusahaan yang didirikan aktor dan sutradara tersebut pada 2022.

Transaksi ini pertama kali diumumkan Netflix pada 5 Maret 2026, namun nominal pastinya baru tersiar setelah perusahaan mempublikasikan laporan 10-Q. Angka tersebut menjadikan akuisisi InterPositive salah satu deal AI di industri hiburan dengan nilai terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Bagi ekosistem startup AI di Hollywood, ini adalah validasi bahwa teknologi generatif bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan aset strategis bernilai ratusan juta dollar.

Apa itu InterPositive?

InterPositive didirikan Ben Affleck sebagai wadah eksplorasi teknologi kecerdasan buatan dalam dunia perfilman. Fokus utamanya adalah mengubah lanskap visual effects tanpa mengorbankan sisi kreatif dari proses pembuatan film, mulai dari penulisan naskah, penyutradaraan, akting, hingga desain produksi.

Menurut pernyataan Affleck saat pengumuman awal, ia merasa punya tanggung jawab untuk melindungi kekuatan kreativitas manusia di balik layar. "Dari penemuan gambar bergerak hingga transisi ke digital, dari motion capture hingga virtual production, teknologi selalu berevolusi bersama para seniman yang menggunakannya," tulisnya. "Komitmen bersama kami untuk melanjutkan warisan ini menjadikan bergabung dengan Netflix langkah yang natural, ditambah pengalaman Netflix selama puluhan tahun dalam menerapkan dan menskalakan teknologi secara bertanggung jawab."

Model AI yang Dilatih di Studio Tertutup

Salah satu aset berharga InterPositive adalah dataset proprietari yang dikumpulkan di sebuah soundstage tertutup. Data ini melahirkan model pertama perusahaan yang, menurut Affleck, "dilatih untuk memahami logika visual dan konsistensi editorial, sambil mempertahankan aturan sinematik di bawah tantangan produksi dunia nyata seperti missing shots, penggantian latar belakang, atau pencahayaan yang tidak tepat."

Dengan kata lain, AI ini tidak sekadar menghasilkan efek visual secara generik. Ia dirancang untuk memahami bahasa visual perfilman dan menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan yang seringkali tidak sempurna. Hal ini menjadi pembeda utama antara alat AI biasa dengan sistem yang benar-benar dipahami oleh profesional industri hiburan.

Penggunaan AI di 300 Produksi Netflix

Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, mengungkapkan dalam earnings call pekan ini bahwa sekitar 300 produksi Netflix saat ini telah menggunakan AI dalam prosesnya, sebagian besar di tahap pasca-produksi. Jumlah ini menunjukkan bahwa integrasi AI bukan lagi proyek pilot, melainkan bagian integral dari pipeline produksi konten skala besar.

"Gen AI sedang meluas dengan cepat di seluruh proses kreatif, dari konsep hingga pre-vis hingga pasca-produksi dan pengiriman," kata Sarandos. "Kami menghasilkan output berkualitas lebih tinggi dengan lebih cepat dan efisien daripada menggunakan metode tradisional. Workflow gen AI kini telah digunakan di sekitar 300 judul kami, dengan konsentrasi terbesar saat ini di pasca-produksi. Namun kami juga memanfaatkannya untuk bidikan dan urutan yang sangat rumit."

Sebagai contoh nyata, Netflix menyoroti serial dokumenter The American Experiment yang didukung Tom Hanks. Serial tersebut memiliki 17 menit footage yang disebut Sarandos sebagai "AI-enhanced". Menurutnya, durasi tersebut diproduksi dua kali lebih cepat dan dengan setengah biaya dibanding opsi konvensional. Efisiensi semacam ini bisa menjadi game changer di era persaingan platform streaming yang semakin ketat.

Implikasi bagi Industri Kreatif Global

Deal senilai 587 juta dollar ini menunjukkan betapa seriusnya Netflix dalam mengintegrasikan AI ke dalam pipeline konten mereka. Bagi para profesional kreatif, ini bisa menjadi sinyal positif bahwa perusahaan besar bersedia menginvestasikan sumber daya besar untuk alat yang bertujuan meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan sentuhan manusia.

Namun di sisi lain, ekskalasi ini juga mengundang perdebatan soal etika dan transparansi. Seberapa banyak konten yang dinikmati penonton Netflix nantinya akan memiliki campuran tangan AI? Dan bagaimana platform tersebut memastikan bahwa kredit kreatif tetap diberikan kepada manusia di baliknya? Di Indonesia sendiri, industri kreatif digital mulai merambah penggunaan AI untuk animasi dan efek visual, sehingga langkah Netflix bisa menjadi referensi penting bagi perusahaan lokal.

Persaingan Platform Streaming Makin Tegang

Dengan langkah ini, Netflix menegaskan posisinya tidak hanya sebagai platform distribusi, tetapi juga sebagai pemain teknologi yang membangun infrastruktur AI sendiri. Saingan seperti Disney, Warner Bros. Discovery, dan Amazon Studios kemungkinan akan menyusul dengan investasi serupa atau kemitraan strategis dengan vendor AI.

Bagi developer dan engineer AI, tren ini membuka peluang besar untuk merambah sektor entertainment tech. Kebutuhan akan sistem yang mampu memahami konteks visual, sinematik, dan naratif akan terus meningkat seiring platform-platform besar berebut dominasi pasar global. InterPositive mungkin baru permulaan dari gelombang akuisisi AI di Hollywood yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan.

Dari sudut pandang bisnis, akuisisi ini juga menegaskan bahwa AI tidak lagi hanya domain perusahaan teknologi murni seperti Google atau OpenAI. Perusahaan media dan entertainment kini ikut bersaing dalam merekrut talenta AI dan mengakuisisi startup yang memiliki dataset serta model proprietary. Bagi investor dan founder startup AI di Asia Tenggara, ini adalah tanda bahwa model bisnis yang menggabungkan AI dengan konten lokal bisa menarik minat investor strategis global.

Keputusan Netflix untuk mengungkapkan nominal akuisisi secara transparan dalam filing SEC juga menarik perhatian. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak malu-malu mengakui nilai strategis dari aset AI mereka. Bagi analis pasar, transparansi tersebut memberikan gambaran lebih jelas tentang arah pengeluaran modal Netflix dan seberapa besar mereka mempertaruhkan masa depan pada teknologi generatif.

Sumber: The Hollywood Reporter