Google Gunakan Data Pengguna untuk Latih AI: Begini Cara Opt Out
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 6 Juli 2026

Google Gunakan Data Pengguna untuk Latih AI: Begini Cara Opt Out

Perubahan kebijakan privasi Google baru-baru ini memungkinkan perusahaan menyimpan lebih banyak data pengguna, termasuk gambar, file, serta rekaman audio dan video, untuk meningkatkan model AI. Artinya, setiap media yang diunggah ke layanan Google Search akan digunakan sebagai bahan pelatihan AI kecuali pengguna secara aktif memilih keluar.

Perubahan ini diumumkan secara low profile melalui email pelanggan pada Juni 2026. Google pada dasarnya mengoptkan pengguna ke dalam program pelatihan AI yang diperluas, di bawah jargon kontrol atas riwayat tersimpan dan rekomendasi personal. Update ini tidak hanya mencakup Google Search, tapi juga Maps, Shopping, Flights, Hotels, Translate, dan News.

Data Apa Saja yang Terekam?

Ketika pengguna memakai Google Lens untuk mencari secara visual, foto tersebut kini bisa disimpan untuk pelatihan AI. Begitu pula rekaman audio dari fitur Search Live yang memungkinkan pencarian via input suara. Bahkan latihan berbicara di Google Translate juga ikut tersimpan. Hal ini mencerminkan pergeseran industri yang lebih agresif dalam mengumpulkan data demi meningkatkan layanan AI.

Meta adalah contoh lain yang melakukan hal serupa, dengan melatih AI pada gambar pengguna dan konten yang direkam oleh kacamata pintar Ray-Ban Meta. Google sendiri mengonfirmasi dalam email pelanggan bahwa media yang tersimpan digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan layanan serta teknologi, termasuk model generatif AI dan langkah-langkah keamanan.

Cara Menghentikan Pelatihan Data

Pengguna bisa mengubah preferensi di halaman Search Services History dan Search Services Personalization. Di halaman pertama, centang bisa dihapus pada kotak Save Media secara terpisah dari Search Services History, atau keduanya. Pengguna juga bisa mengatur penghapusan otomatis data tersimpan setelah tiga, delapan belas, atau tiga puluh enam bulan.

Selain media tersimpan, Google juga memakai riwayat pencarian, lokasi, dan informasi dari website yang dikunjungi untuk personalisasi pengalaman, termasuk iklan yang ditampilkan. Sebelum update ini, pengaturan riwayat data tersimpan dikelola via Web and App Activity. Kini pengaturan tersebut dipisah menjadi dua opsi yang berbeda, dengan Search Services History aktif secara default. Artinya, mengubah pengaturan Web and App Activity tidak lagi berdampak pada Search Services.

Perbandingan dengan Kebijakan Meta dan Apple

Google bukan satu-satunya raksasa teknologi yang memanfaatkan data pengguna untuk pelatihan AI. Meta telah lama menggunakan foto dan video pengguna Facebook serta Instagram untuk melatih model AI-nya. Kontroversi muncul ketika Meta mulai meminta izin untuk menggunakan foto di camera roll yang belum diunggah. Di sisi lain, Apple mengambil pendekatan berbeda dengan memproses data secara on-device melalui Apple Intelligence, meski tidak sepenuhnya transparan soal detail training data.

Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa tidak ada standar industri yang seragam soal data privacy dan AI training. Regulasi seperti GDPR di Eropa dan UU PDP di Indonesia mulai menekan perusahaan untuk lebih transparan, tapi implementasinya masih inconsistent. Pengguna harus proaktif memahami kebijakan setiap platform yang mereka gunakan.

Dampak bagi Developer dan Startup Indonesia

Bagi developer dan founder startup di Indonesia yang sering bereksperimen dengan produk Google, awareness soal data privacy ini penting. Jangan sampai data sensitif perusahaan atau pengguna ikut terlatih dalam model AI tanpa izin eksplisit. Jika aplikasi Anda mengintegrasikan Google Lens atau Search API, pertimbangkan untuk menginformasikan pengguna secara jelas bahwa data visual mereka bisa disimpan.

Startup yang menangani data kesehatan, keuangan, atau pendidikan harus ekstra hati-hati. Menggunakan layanan Google untuk memproses data sensitif tanpa memahami kebijakan terbaru bisa berakibat fatal, baik dari sisi reputasi maupun compliance. Audit vendor dan data processing agreement harus menjadi bagian dari checklist security rutin.

Langkah-Langkah Proteksi Data Pribadi

Selain mematikan Save Media dan Search Services History, ada beberapa langkah tambahan yang bisa dilakukan. Pertama, gunakan Google Takeout secara berkala untuk mengekspor dan menghapus data lama. Kedua, aktifkan verifikasi dua langkah untuk mencegah akses tidak sah ke akun. Ketiga, pertimbangkan menggunakan alternatif search engine yang lebih privacy-focused seperti DuckDuckGo untuk pencarian sensitif.

Keempat, jika Anda menggunakan Google Workspace untuk bisnis, administrator bisa mengatur kebijakan retention dan sharing di level organisasi. Manfaatkan fitur ini untuk membatasi scope data yang bisa diakses oleh layanan AI Google. Kelima, edukasikan tim Anda soal risiko shadow AI: penggunaan tool AI konsumen untuk memproses data perusahaan tanpa izin.

Transparansi dan Tanggung Jawab Perusahaan Teknologi

Isu utama dari update Google ini bukanlah pada penggunaan data itu sendiri, melainkan pada cara pengoptan yang dilakukan secara default. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam program pelatihan AI hanya karena menggunakan layanan yang selama ini mereka anggap aman. Transparansi yang kurang bisa merusak kepercayaan jangka panjang terhadap brand.

Perusahaan teknologi perlu menyediakan UX yang jelas dan tidak tersembunyi di balik menu pengaturan yang kompleks. Sebuah notifikasi eksplisit saat pertama kali fitur AI diaktifkan akan jauh lebih etis daripada mengoptkan pengguna secara diam-diam. Regulator di seluruh dunia, termasuk Indonesia melalui UU PDP, perlu memperketat aturan soal explicit consent untuk penggunaan data dalam pelatihan AI.

Kesimpulan

Update kebijakan privasi Google ini adalah reminder bahwa di era AI, data adalah bahan bakar. Perusahaan akan terus mencari cara untuk mengumpulkan lebih banyak data demi meningkatkan model mereka. Tanggung jawab melindungi data pribadi dan korporat sekarang ada di tangan pengguna. Jangan tunggu sampai ada insiden kebocoran data besar untuk mulai peduli dengan pengaturan privasi Anda.

Sumber: TechCrunch