Current AI Bangun Infrastruktur AI Publik yang Terbuka
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 19 Juli 2026

Current AI Bangun Infrastruktur AI Publik yang Terbuka

Ketika setiap model AI besar dimiliki oleh perusahaan swasta, bagaimana nasib masyarakat yang tidak berbahasa Inggris atau tidak memiliki akses internet stabil? Organisasi nirlaba Current AI mencoba menjawab pertanyaan itu dengan membangun infrastruktur AI publik yang terbuka untuk semua.

Dilansir dari TechCrunch, Current AI baru-baru ini mengalokasikan dana hibah senilai 3,2 juta dolar AS untuk empat organisasi di Kenya, Lebanon, dan Brasil. Tujuannya jelas: memastikan teknologi AI tidak hanya melayani segelintir bahasa dan budaya, tetapi juga mencakup komunitas yang selama ini terpinggirkan.

Visi World Wide Web untuk AI

Ayah Bdeir, CEO Current AI, mengibaratkan visi organisasinya seperti World Wide Web pada masa awal. "Jika AI benar-benar teknologi transformatif, harus ada alternatif publik. Seperti web, tersedia bagi siapa saja, secara gratis," katanya dalam wawancara dengan TechCrunch.

Bdeir sebelumnya dikenal sebagai founder littleBits, perusahaan edukasi STEM yang diakuisisi Sphero pada 2019. Sebelum bergabung dengan Current AI, ia memimpin strategi AI di Mozilla Foundation.

Suno Sutra: AI dalam 22 Bahasa India

Salah satu proyek unggulan Current AI adalah Suno Sutra, perangkat saku berukuran kecil yang menjalankan AI dalam 22 bahasa India tanpa memerlukan koneksi internet. Perangkat ini dikembangkan bersama Bhashini, divisi bahasa AI milik pemerintah India.

"Di India, ada ratusan bahasa dan dialek, dan saat ini AI tidak mewakili mereka," ujar Bdeir. Perangkat ini bersifat open source, sehingga komunitas developer bisa mengembangkannya lebih lanjut sesuai kebutuhan lokal.

Grant untuk Komunitas Global Selatan

Dana hibah 3,2 juta dolar AS dari Current AI didistribusikan ke empat proyek strategis. Pertama, proyek Masakhane di Kenya yang membangun dataset AI untuk lebih dari 50 bahasa Afrika demi mendukung sektor kesehatan, pertanian, dan pendidikan. Kedua, Institute for Worldmaking di Lebanon yang mendigitalisasi sejarah budaya Arab ke dalam basis data yang bisa dibaca mesin.

Ketiga, Portal sem Porteiras di Brasil yang mengembangkan tool AI offline bersama komunitas Indigenus Amazon, menjaga data tetap berada dalam wilayah mereka. Keempat, African Internet Rights Alliance di Kenya yang membuat tool audit untuk mengevaluasi akuntabilitas sistem AI di benua Afrika.

Kolaborasi dengan Sakana AI dan Raksasa Teknologi

Current AI juga menjalin kerja sama dengan Sakana AI, startup asal Tokyo yang fokus pada Sovereign AI. Keduanya berencana membangun tumpukan open source yang mendukung bahasa dan budaya Jepang, sekaligus komunitas di Global South yang sering diabaikan oleh sistem AI dominan.

Sejak didirikan pada Februari 2025, Current AI telah mengumpulkan komitmen pendanaan sebesar 400 juta dolar AS. Kontributor utamanya mencakup pemerintah Prancis, Ford Foundation, MacArthur Foundation, DeepMind, dan Salesforce.

Mengapa Ini Penting bagi Developer Indonesia

Bagi developer dan founder di Indonesia, inisiatif Current AI membuka peluang besar. Bahasa Indonesia, dengan ratusan dialek lokalnya, bisa menjadi bagian dari ekosistem AI publik ini. Alih-alih bergantung sepenuhnya pada model bahasa besar milik Silicon Valley, ada kemungkinan untuk berkontribusi dalam membangun model yang benar-benar merepresentasikan kekayaan linguistik dan budaya lokal.

Current AI membuktikan bahwa AI tidak harus selalu berpusat pada profit. Ada ruang untuk inovasi yang berpihak pada publik, menjaga keberagaman bahasa, dan memberdayakan komunitas yang selama ini tertinggal.