Apple Setujui Poke sebagai AI Agent Pertama di Messages for Business
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 4 Juni 2026

Apple Setujui Poke sebagai AI Agent Pertama di Messages for Business

Menurut laporan TechCrunch, Apple telah secara resmi menyetujui Poke sebagai AI agent pertama yang beroperasi di platform Messages for Business. Keputusan ini menandai pergeseran signifikan dalam ekosistem messaging Apple, yang sebelumnya hanya terbuka untuk komunikasi bisnis-ke-konsumen, bukan untuk agen AI pihak ketiga yang berdiri sendiri. Poke kini dapat memanfaatkan iMessage sebagai saluran tambahan selain SMS, Telegram, dan WhatsApp yang sudah lebih dulu didukung.

Poke adalah startup yang didirikan oleh Marvin von Hagen dengan misi menjadikan AI agent semudah mengirim pesan teks. Sejak diluncurkan pada Maret 2026, layanan ini telah menarik perhatian karena pendekatannya yang sederhana: pengguna tidak memerlukan keahlian teknis atau command-line untuk berinteraksi dengan AI. Hanya melalui pesan teks, Poke bisa membantu aktivitas harian seperti perencanaan jadwal, manajemen kalender, pelacakan kesehatan dan kebugaran, kontrol perangkat smart home, hingga editing foto. Perusahaan mengklaim telah menyalurkan sekitar 100 juta pesan sejak peluncuran, angka yang menunjukkan adopsi yang cukup tinggi untuk produk yang baru berusia beberapa bulan.

Bagaimana Poke Bekerja di Platform Apple

Messages for Business adalah platform yang memungkinkan konsumen berinteraksi dengan bisnis melalui iMessage tanpa perlu menelepon. Sebelumnya, platform ini digunakan oleh maskapai penerbangan, rantai retail, dan hotel untuk memberikan informasi, dukungan, serta penjadwalan janji. Poke memanfaatkan infrastruktur ini dengan cara yang unik: pengguna mengirim pertanyaan atau permintaan, dan AI agent merespons langsung dalam bentuk teks. Ini berbeda dengan model aplikasi native yang memerlukan pengguna mendownload dan menginstal software terlebih dahulu.

Untuk mendapatkan persetujuan dari Apple, Poke harus melewati proses verifikasi yang ketat. Von Hagen menjelaskan bahwa pihaknya harus membuktikan kemampuan menyediakan dukungan live jika diperlukan, serta memastikan AI agent diidentifikasi secara jelas sebagai bukan manusia. Selain itu, Poke harus menyesuaikan antarmuka penggunanya dengan style guide Apple, termasuk menampilkan link preview alih-alih inline link, dan menggunakan elemen UI seperti tombol serta format yang sesuai dengan standar platform. Proses ini memakan waktu beberapa bulan, yang menurut von Hagen akan menjadi benchmark bagi perusahaan lain yang ingin mengikuti jejak yang sama.

Model Bisnis dan Dampak bagi Ekosistem AI

Detail yang paling menarik bagi founder dan investor adalah struktur biaya yang diperkenalkan Apple. Poke membayar Apple secara per-user untuk setiap pengguna yang berinteraksi di platform Messages for Business. Meskipun von Hagen tidak bisa mengungkapkan angka pastinya, ia menyebutkan bahwa tarif ini jauh lebih rendah dibandingkan biaya platform Meta AI setelah kenaikan tarif akibat regulasi Uni Eropa yang mewajibkan Meta membuka WhatsApp untuk agen AI pihak ketiga. Perbandingan ini menjadi penting bagi startup yang mencari saluran distribusi dengan biaya terendah.

Struktur toll-per-user ini membuka revenue stream baru yang berpotensi signifikan bagi Apple, terutama jika ekosistem AI agent terus berkembang. Namun, bagi startup AI agent, ini juga menambah cost of distribution yang harus diperhitungkan dalam model bisnis. Bagi investor, hal ini menunjukkan bahwa Apple mulai melihat potensi AI agent sebagai kategori aplikasi yang layak di monetisasi, mirip dengan aplikasi di App Store yang memberikan komisi 15 hingga 30 persen kepada Apple.

"Apple menyadari ini adalah cara terbaik untuk menawarkan AI, dan mereka menghasilkan uang dari platform ini. Terutama jika menjadi sangat besar," kata von Hagen dalam wawancara dengan TechCrunch. Startup berbasis Palo Alto yang beranggotakan 10 orang ini baru saja mengumpulkan tambahan $10 juta dari Spark Capital dan General Catalyst, menjadikan total valuasi post-money mencapai $300 juta. Angka ini menunjukkan keyakinan investor terhadap masa depan AI agent yang beroperasi di dalam platform messaging yang sudah mapan.

Implikasi Jangka Panjang dan WWDC 2026

Persetujuan Poke datang tepat menjelang WWDC 2026, di mana Apple diperkirakan akan meluncurkan versi Siri yang dioptimalkan untuk AI. Meskipun belum jelas apakah Apple akan mengumumkan dukungan resmi untuk AI agent di Messages for Business, kehadiran Poke menunjukkan arah strategi perusahaan dalam menyambut era agentic AI pada ekosistem iOS. Apple juga dikabarkan sedang mempertimbangkan membuka App Store untuk aplikasi AI agent, yang bisa memperluas aksesibilitas kategori ini bagi pengguna iPhone secara lebih luas.

Peluang bagi Developer Indonesia

Bagi pengembang di Indonesia, persetujuan Poke membuka peluang baru untuk membangun AI agent yang beroperasi di platform messaging. Dengan pendekatan text-based, barrier to entry untuk adoption jauh lebih rendah dibandingkan aplikasi native yang memerlukan instalasi. Ini sejalan dengan tren global menuju agentic workflow, di mana AI tidak lagi sekadar chatbot, melainkan agen otonom yang menyelesaikan tugas end-to-end. Seiring dengan perkembangan Apple Intelligence dan model bahasa lokal, kita bisa mengharapkan lebih banyak inovasi serupa yang mendukung bahasa Indonesia dan konteks lokal.

Dari sisi infrastruktur, Indonesia memiliki lebih dari 350 juta pengguna smartphone aktif, dengan sebagian besar menggunakan perangkat iOS. Jika Apple membuka lebih banyak API untuk AI agent di platform messaging, startup lokal bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan pasar domestik, mulai dari customer service otomatis hingga asisten personal berbahasa Indonesia. Kunci keberhasilan akan terletak pada kemampuan memahami nuansa bahasa dan konteks budaya lokal, sesuatu yang model global seringkali masih kesulitan. Dengan demikian, persetujuan Poke bukan sekadar berita produk, melainkan sinyal awal dari perubahan paradigma dalam cara kita berinteraksi dengan AI sehari-hari.

Gambar: TechCrunch/Poke