AI Mania Merusak Pengambilan Keputusan Global: Sebuah Peringatan
AP
Adrian Prat

Dipublikasikan 18 Juli 2026

AI Mania Merusak Pengambilan Keputusan Global: Sebuah Peringatan

Investasi AI bernilai triliunan dolar di seluruh dunia ternyata menghasilkan kegagalan massal yang jarang dilaporkan secara terbuka. Nikhil Suresh dari Hermit Tech mengungkap fenomena yang ia sebut AI mania: sebuah kondisi di mana organisasi besar kehilangan kemampuan berpikir rasional karena tekanan untuk mengadopsi AI.

Dari pengalamannya menangani klien di berbagai sektor, Suresh menyaksikan bagaimana lembaga keuangan, rumah sakit, dan bahkan badan pemerintah mengambil keputusan strategis berdasarkan hype semata. Hasilnya seringkali bencana: produk yang tidak pernah digunakan, pivot berulang kali, dan pemborosan sumber daya yang luar biasa.

Bukti Nyata Kegagalan Investasi AI

Salah satu cuplikan paling menggigit dari artikel asli datang dari seorang editor yang menceritakan kondisi divisi tempatnya bekerja. Divisi tersebut dipaksa pivot untuk mendukung agentic workflows, hanya untuk menemukan bahwa hanya sepuluh pengguna yang pernah menyentuh produk yang mereka bangun. Setelah kegagalan tersebut, mereka pivot lagi ke support untuk agentic workflows, yang ternyata merupakan ruang yang sangat kompetitif karena setiap perusahaan kini harus melakukan sesuatu yang agentic.

Kisah ini bukanlah kasus isolasi. Suresh mengamati pola serupa di ratusan organisasi: tim engineering dipaksa membangun fitur AI yang tidak ada yang meminta, manajer mengejar metrik adopsi yang tidak relevan, dan eksekutif menyetujui anggaran besar tanpa pemahaman teknis yang memadai. Keadaan ini bukan sekadar inefisiensi, tapi sebuah psikosis massal yang menggerus fondasi pengambilan keputusan.

Mengapa Keputusan Berbasis AI Sering Gagal?

Ada beberapa faktor yang memperburuk dinamika ini. Pertama, tekanan pasar dan investor mendorong perusahaan untuk mengklaim adopsi AI meskipun belum siap. Kedua, kurangnya pemahaman mendalam tentang keterbatasan AI saat ini menyebabkan ekspektasi yang tidak realistis. Ketiga, struktur insentif di banyak korporasi menghukum karyawan yang mengungkapkan keraguan terhadap proyek AI.

Suresh mencatat bahwa orang-orang yang waras di dalam organisasi kini hidup dalam ketakutan dan frustrasi yang bercampur. Mereka melihat kegilaan tapi merasa tidak berdaya untuk menghentikannya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena posisi mereka bergantung pada kesediaan untuk tetap diam dan mengikuti arus.

Dampak pada Profesional Teknologi

Bagi developer dan engineer, fenomena AI mania menciptakan lingkungan kerja yang toksik. Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk memecahkan masalah nyata justru dihabiskan untuk membangun integrasi AI yang tidak ada gunanya. Burnout meningkat, kepuasan kerja menurun, dan yang paling ironis: inovasi sejati justru terhambat karena semua sumber daya terkuras oleh proyek-proyek AI kosong.

Bagi konsultan dan agency, dinamika ini menghasilkan pasar yang terdistorsi. Klien datang dengan brief AI yang ambisius namun tidak terdefinisi dengan baik. Proyek berakhir dengan deliverable yang tidak pernah diimplementasikan secara penuh. Semua pihak tahu bahwa ini adalah theater, tapi semua tetap bermain peran demi menjaga reputasi dan hubungan bisnis.

Apa yang Bisa Dilakukan Developer?

Meskipun tampak seperti masalah struktural yang terlalu besar untuk diatasi oleh individu, ada langkah konkret yang bisa diambil. Pertama, selalu mulai dengan masalah bisnis, bukan solusi teknologi. Tanyakan dengan jujur: apakah AI benar-benar diperlukan untuk kasus ini, atau apakah solusi deterministik sederhana sudah cukup?

Kedua, dokumentasikan kegagalan dengan transparan. Suresh menekankan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan psikosis ini adalah dengan berbicara jujur tentang apa yang tidak berhasil. Tanpa data kegagalan yang jelas, narasi keberhasilan AI yang dibesar-besarkan akan terus mendominasi.

Ketiga, bangun portofolio yang menunjukkan pemikiran kritis. Bagi developer yang mencari pekerjaan atau klien baru, kemampuan untuk menunjukkan bahwa kamu bisa menolak hype dan memilih teknologi yang tepat adalah aset yang sangat berharga di pasar yang dipenuhi oleh para pengikut tren.

Kesimpulan

AI mania yang digambarkan oleh Hermit Tech bukanlah penolakan terhadap teknologi AI itu sendiri, tapi sebuah peringatan keras tentang bahaya hype yang tidak terkendali. Bagi ekosistem teknologi Indonesia, ini adalah pengingat bahwa mengadopsi AI harus didasarkan pada evaluasi objektif, bukan tekanan FOMO. Developer yang mampu mempertahankan rasionalitas di tengah gelombang kegilaan ini akan menjadi pemenang jangka panjang.